Tapi, kata Kiai Hasyim, sehebat-hebat mereka merekayasa, tetap Allah SWT yang lebih canggih. “Wamakaru makarallah. Wallahu khoirul makirin,” kata Kiai Hasyim mengutip Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 154 yang artinya: Orang-orang kafir itu membuat rekayasa atau tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baiknya pembalas tipu daya.
Kiai Hasyim juga menceritakan tentang PKI yang secara agresif menggunakan budaya atau kesenian sebagai media agitasi. Mereka mendirikan Lekra, lembaga kesenian yang menangani aktivitas budaya atau kesenian PKI. Menurut dia, ludruk (Jawa Timur) saat itu dikuasai oleh Lekra. Sehingga lakon-lakon yang dipentaskan selalu merendahkan agama Islam.
Ia menyebut lakon ludruk saat itu, antara lain, berjudul: Matinya Gusti Allah, Gusti Allah Mantu, dan Nabi Muhammad Minta Pensiun. “Jadi hujatan-hujatan terhadap agama Islam luar biasa,” kata pendiri pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok Jawa Barat itu. Karena itu lalu lahir UU no 1/1965/larangan menghujat agama.
Menurut Kiai Hasyim, salah satu ciri khas PKI adalah kelihaiannya dalam memutarbalikkan opini. Ia mencontohkan organisasi bikinan PKI yaitu Barisan Tani Indonesia (BTI). “BTI itu kerjanya mengapling-ngapling tanah milik orang lain,” jelasnya. Menurut dia, dalam paham komunisme proletar, rakyat tak boleh memiliki tanah secara pribadi. Semua diambil Negara. “Tapi kalau di depan orang Islam mereka bilang BTI itu Barisan Tani Islam,” kata Kiai Hasyim Muzadi.










