Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kasus program Xpose Uncensored Trans7 yang dianggap memframing negatif PP Lirboyo, terutama KH M Anwar Manshur, menyibak misteri selama ini. Dari komen-komen yang muncul di medsos terlihat sekali kelompok mana yang sangat bernafsu menyerang pesantren dan NU.
Ini menjadi pelajaran bagi semua elemen bangsa bahwa primordialisme dan sektarianisme masih sangat kuat dalam masyarakat kita.
BACA JUGA:
- Ma’had Aly Lirboyo Wisuda 1.175 Mahasiswa
- Pemilik Trans7 Kunjungi Lirboyo, Ketum BKN: Saya Desak Pak Chairul Tanjung ke Sana
- Di Balik Narasi Negatif Trans7, Ternyata 1.258 Santri Amanatul Ummah Lolos PTN dan PT Luar Negeri
- Silaturahmi ke Lirboyo, Chairul Tanjung Minta Maaf Langsung ke KH Anwar Mansur soal Trans7
Yang menarik, mereka tidak hanya melontarkan kecaman pada pesantren dan NU tapi juga menawarkan ideologi tertentu sebagai alternatif ideologi yang ada: Pancasila. Mereka, jika kita kategorikan dalam peta ideologi, adalah kelompok kanan dan kiri.
Pada sisi lain komunitas pesantren juga harus muhasabah atau evaluasi diri dan introspeksi. Ini penting karena dari muhasabah inilah akan lahir inspirasi dan solusi untuk perbaikan-perbaikan ke depan.
Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren menjamur jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan para kiai dan santri dari berbagai pesantren inilah yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dari masa ke masa.
Pesantren inilah yang mengisi kekosongan pendidikan bangsa Indonesia ketika negara absen dalam pendidikan, terutama sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Yang perlu diingat, Indonesia yang kita nikmati sekarang adalah berkat keringat dan bahkan tetesan darah kiai dan santri, disamping para pejuang kemerdekaan yang lain secara umum.






