
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Dr. Mutmainah Zainul, aktivis perempuan sekaligus Ketua Muslimah Humanist Foundation Bangkalan meminta seluruh elemen masyarakat di Bangkalan untuk bahu-membahu mencegah terjadinya peningkatan kasus kekerasan seksual.
"Keluarga broken home baik dari pelaku atau korban, jadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kasus pemerkosaan, selain juga minimnya kepedulian serta kontrol dari elemen masyarakat Bangkalan," ujarnya saat menjadi pembicara di webinar "Bangkalan Kota Hiperseks?" yang diadakan oleh Ikamaba Surabaya, Sabtu (8/8/2020) malam.
Menurutnya, hal ini akibat tidak maksimalnya tiga pilar pendidikan, yakni pendidikan keluarga, pendidikan formal, serta pendidikan lingkungan yang berujung pada lemahnya pendidikan karakter.
Istri Mathur Husairi, politikus PBB ini memaparkan, kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan sejak 2011 sudah marak. Hanya saja korbannya takut melapor karena menyangkut aib dirinya dan keluarga.
"Selain adanya tekanan dan ancaman dari pihak pelaku, juga karena rasa kurang percaya terhadap penanganan pihak aparat," ucapnya.
"Sebenarnya hal ini menjadi tanggung jawab bersama, seluruh elemen masyarakat harus peduli, apalagi Bangkalan basis pondok pesantren," sambungnya.
Selain itu, ia meminta kepada pemerintah kabupaten lewat dinas terkait untuk lebih memberikan support pada kegiatan positif yang dilakukan oleh pemuda. Seperti aktivitas olahraga, musik lewat karang taruna, remaja masjid (remas). "Semua elemen masyarakat harus bergerak bersama, bahu-membahu," terangnya.
"Oleh karena itu, dibutuhkan sinergitas seluruh stakekholder dan harus bersama-sama bergerak agar Bangkalan tidak menjadi kota yang mengerikan terhadap kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan," tegasnya.
Sementara itu, ia juga memberikan apresiasi kepada Ikatan Mahasiswa Bangkalan (Ikamaba) yang telah ikut berpartisipasi melakukan pencegahan terhadap kekerasan seksual di Bangkalan. "Salah satunya lewat talk show ini," pungkasnya. (uzi/zar)