Rabu, 16 Juni 2021 15:20

Banjir Jombang, Ratusan Pengungsi Pilih Bertahan di Tanggul Brantas

Minggu, 07 Februari 2021 14:41 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Aan Amrulloh
Banjir Jombang, Ratusan Pengungsi Pilih Bertahan di Tanggul Brantas
Pengungsi yang bertahan di Tanggul Sungai Brantas. (foto: AAN AMRULLOH/ BANGSAONLINE)

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Banjir yang diakibatkan jebolnya Tanggul Sungai Avoeur Besuk dan Brawijaya yang berada di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang kian meluas.

Sebelumnya, lokasi banjir hanya di wilayah Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo. Kini, banjir sudah mulai masuk ke Desa Bandarkedungmulyo dengan ketinggian air mencapai dua meter lebih.

Karena tingginya air, hampir seluruh warga desa tersebut mengungsi di tempat aman yang disediakan pemdes setempat.

Namun ada pemandangan yang aneh ketika melihat banyaknya tenda-tenda berjajar di atas Tanggul Sungai Brantas yang berada di Desa Bandarkedungmulyo. Ternyata, tenda dengan terpal seadanya tersebut milik pengungsi yang memilih bertahan saat rumahnya terendam air.

BACA JUGA : 

Dinas Perkim Jombang Gelar Pelatihan PKM untuk Desa Penerima Program Kotaku

Bupati Mundjidah Canangkan Renovasi Masjid di Lingkup Pemkab Jombang

Jelang Lebaran, Forkopimda Jombang Sidak Pasar Tradisional

Bolos Paripurna, Eksekutif Sebut Anggota Dewan Jombang Tak Paham Peraturan

Terlihat, kurang lebih dua kilometer tanggul ini, dipenuhi dengan tenda-tenda yang dibangun warga dengan bahan terpal yang diikatkan pada batang bambu. Beberapa tenda berbentuk tenda tertutup, namun tak jarang juga berbentuk tenda terbuka. Sedangkan untuk alas tenda hanya menggunakan terpal yang dilapisi karpet bagian atasnya.

Pemuda, anak-anak, bayi, ibu-ibu, hingga lansia terlihat menempati tenda-tenda darurat tersebut. Selain itu, sejumlah hewan ternak juga diletakkan warga di lokasi ini usai berhasil diselamatkan dari rumahnya.

Dari pengakuan salah satu pengungsi yang berada di tanggul tersebut, Siti Saroh (50), Warga Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo bahwa dirinya sudah sejak Jumat (5/2/2021) malam menempati tenda, usai rumahnya mulai terendam air.

"Sekitar pukul 23.00 WIB, saya dan warga lainnya mulai pindah ke sini. Karena ini tempat tanah yang paling tinggi. Kami bangun tempat seadanya, siapa pun yang mau mengungsi di sini masih bisa. Ya pokoknya bisa untuk tidur dan berlindung," ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (7/2/2021).

Diakui juga, pihak pemdes memang sudah sempat mengajak mereka untuk pindah ke tempat pengungsian dan posko yang terpusat di Balai Desa Bandarkedungmulyo. Namun, karena pertimbangan jarak dan ketersediaan lahan, banyak warga akhirnya memilih tetap bertahan.

"Kalau ke balai desa jauh, Mas. Mending di sini saja, dekat rumah. Juga bisa mengawasi hewan buat yang punya ternak," tutur Saroh.

Karena bertahan di pengungsian tak resmi, lanjut Saroh, warga di sini mengalami kendala lantaran masih harus memasak sendiri untuk kebutuhan makanan mereka. Selain itu, juga tak adanya fasilitas MCK.

"Bantuan cuma datang dari teman-teman saja, makan ya masak sendiri, kebetulan bawa kompor dan elpiji, kalau dari pemerintah belum ada ini. Untuk mandi dan buang air besar juga kesulitan," tegasnya.

Terpisah, Kepala Desa Bandarkedungmulyo Zainal Arifin tak membantah akan adanya hal itu. Pihaknya mengakui masih banyak warga yang nekat bertahan di tanggul dengan tenda darurat. Kondisi para pengungsi di tanggul ini cukup memprihatinkan. Selain penyaluran bantuan yang masih minim kepada mereka, pendataan juga belum bisa dilakukan.

"Jadi untuk pengungsi yang tercatat di balai desa, ada 400 lebih warga, yang di tanggul juga masih sangat banyak. Jadi yang di tanggul memang tidak terdata sampai sekarang berapa jumlahnya. Ya sementara hanya distribusi hanya mereka butuh minum dikirim, butuh makanan dikirim," jelasnya.

Pemdes berharap agar para pengungsi yang masih bertahan di tanggul untuk mau bergabung dan pindah ke tempat pengungsian di balai desa. Upaya membujuk mereka pun terus dilakukan agar mau pindah ke tempat aman.

"Kita sudah siagakan SD Bandar 1 dan SD Bandar 2 kalau memang balai desa sudah penuh, untuk arena pengungsi. Tapi rata-rata penduduk memang masih ragu. Kita cuma bisa berharap mereka mau terpusat di sini, sehingga penyaluran bantuan mudah, pendataan kesehatan juga bisa dilakukan. Tentu kita juga mengkhawatirkan ada lansia juga anak-anak di sana, kalau hujan kan bagaimana," pungkas Zainal. (aan/zar)

Demam Euro 2021, Warga Desa di Pasuruan Ini Kibarkan Ratusan Bendera Ukuran Raksasa
Senin, 14 Juni 2021 23:58 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Euforia sepak bola Piala Eropa atau Euro tahun 2021 menggema di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di tanah air. Warga pesisir di Kabupaten Pasuruan misalnya, mereka ikut memeriahkan perhelatan Euro 2021 dengan mema...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Rabu, 16 Juni 2021 08:42 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Laksamana Sukardi, mantan politikus PDIP, menulis buku. Baru terbit. Ia menceritakan perisitiwa pemecatan dirinya sebagai Menteri BUMN. Yang hanya menjabat 6 bulan. Ia dipecat Presiden Gus Dur. Karena ada lapora...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...