Kejam dan Rakus, Pengusaha Sarang Burung Walet Rampok Rumah Pasangan Mau Kawin

Kejam dan Rakus, Pengusaha Sarang Burung Walet Rampok Rumah Pasangan Mau Kawin Dahlan Iskan

Wahyudin juga punya industri pengolahan sarang burung walet. Tenaga kerjanya 350 orang –umumnya wanita di sekitar desanya. Tugas mereka adalah membersihkan sarang dari kotoran: bekas darah dan tahi burung. Yakni darah ikutan saat bertelur.

Dr Sunu Kuntjoro, bahkan generasi ketujuh. Doktornya pun tentang sarang burung walet. Dari fakultas teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Yang penelitiannya sampai jauh-jauh ke Madison University, Wisconsin.

Di sana Sunu menghabiskan waktu 2 tahun. Bukan karena di sana ada sarang burung walet. Itu semata karena Sunu ingin memanfaatkan lab kimia di universitas itu.

Dr Sunu juga tidak termasuk yang 23 pengusaha bisa ekspor ke Tiongkok.

Ngobrol di rumah saya itu pun seru. Ada juga Bing Hariyanto, pengusaha pengolahan sarang burung. Pertemuan itu pun menghasilkan dua rumusan: pertama, agar pemerintah terus memperjuangkan ekspor harta karun itu.

Kedua, merumuskan peringatan keras: harta karun itu bisa punah dari Indonesia.

Yang pertama itu hanya Menteri Perdagangan yang bisa di garis depan. Sedang yang kedua tugas pengusaha sarang burung sendiri.

Persoalannya kembali ke sikap rakus dalam berbisnis. Harga sarang burung terbaik adalah sarang burung yang masih bersih. Artinya: belum pernah dipakai kawin oleh pemilik sarangnya. Juga belum pernah dipakai bertelur. Belum ada kotorannya sama sekali.

Padahal sarang burung yang seperti itu mengandung cerita cinta yang dramatik. Sarang itu dibuat lewat upaya yang susah payah, oleh sepasang calon suami-istri walet.

Sepasang burung walet itu punya komitmen cinta yang luar biasa: belum akan kawin sebelum punya rumah. Maka pasangan itu hanya terbang ke sana ke mari untuk bersama-sama mencari makan. Makanan itulah yang membuat pasangan itu bisa memproduksi air liur dalam jumlah banyak.

Menjelang waktu magrib mereka pulang. Yakni ke sebuah rumah yang mereka pilih. Di situlah pasangan itu akan membangun sarang. Tiap malam, secara bergantian, pasangan itu mengucurkan air liur. Air liur mereka menjadi seperti benang. Dikaitkan sedikit demi sedikit. Berhari-hari. Bermalam-malam. Setelah 45 hari barulah sarang itu jadi. Menghabiskan air liur begitu banyak: demi perkawinan mereka.

Burung walet –sosoknya mirip burung sriti– adalah makhluk yang punya komitmen tinggi soal perkawinan. Tidak akan kawin sebelum punya rumah. Tidak seperti tetangga Kliwon.

Begitu sarang itu jadi, mereka pun kawin. Di situ. Tiap malam pulangnya ke situ. Sampai yang betina bertelur.

"Burung walet itu monogami. Tidak ganti-ganti pasangan," ujar Dr Sunu. Jantannya tidak pernah ke sarang betina lain.

Burung walet juga istimewa: hanya punya dua telur –persis seperti tetangga Alay. Tidak ada walet yang punya lebih dua telur –dalam sekali bertelur. Tidak pernah juga hanya punya satu telur.

Dua telur itu pun sangat istimewa. Yang satu pasti jantan. Dan satunya betina. Dr Sunu sudah melakukan penelitian itu secara mendalam.

Anda bayangkan: ketika rumah mereka itu baru jadi, belum lagi digunakan untuk kawin, sudah dirampok oleh makhluk lain yang bernama pengusaha sarang burung walet. Betapa kejamnya.

Kali ini saya mau, kalau harus jadi buzzer untuk mengecam kerakusan seperti itu. Syukur-syukur ada yang membayar.

Harga sarang burung perawan seperti itu memang bisa mencapai Rp 15 juta/kg. Sekarang ini. Sedangkan yang sudah dipakai bertelur tinggal Rp 10 juta. Dan yang sudah beberapa kali dipakai kawin-bertelur bisa tinggal Rp 7 juta.

Maka rumah-rumah pasangan yang siap kawin itu dipanen. Alangkah menderitanya pasangan muda burung walet itu. Coba, di mana mereka akan kawin. Bagaimana pula dengan janji mereka: untuk baru akan kawin setelah punya rumah. Lalu, begitu siap rumah itu hilang.

Saya tidak mampu meneruskan tulisan ini. Saya sedih sekali membayangkannya. Saya, hari ini, juga tidak mau memilih komentar terbaik... Mungkin besok baru bisa move on. (Dahlan Iskan)