Kejam dan Rakus, Pengusaha Sarang Burung Walet Rampok Rumah Pasangan Mau Kawin

Kejam dan Rakus, Pengusaha Sarang Burung Walet Rampok Rumah Pasangan Mau Kawin Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Wartawan terkemuka Dahlan Iskan mengaku sedih. Tak mampu meneruskan tulisan ini. Ia tak bisa membayangkan betapa menderitanya sepasang burung walet yang sudah siap kawin tiba-tiba rumahnya dirampas oleh pengusaha rakus.

Loh? Simak tulisan mantan Menteri BUMN itu di Disway berjudul Pasangan Muda pagi ini, 14 September 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkannya secara lengkap.

Sekadar info, agar Anda bisa membaca tuntas sebaiknya klik langsung BANGSAONLINE.com karena di aplikasi agregator sering terputus dan tak lengkap. Selamat membaca:

MENTERI Perdagangan menyebutnya sebagai harta karun. Nilainya Rp 500 triliun. Sang menteri, Muhammad Lutfi, berkomitmen menggalinya.

Tentu akan berhasil. Pada saatnya nanti. Bila memang harus berhasil.

Harta karun itu bernama sarang burung walet. Yang kemampuan Indonesia menghasilkannya luar biasa: 1.500 ton/tahun. Yang sudah berhasil diekspor langsung ke Tiongkok baru sekitar 300 ton/tahun.

Sisanya harus muter-muter. Kalau perlu lewat jalan-jalan tikus. Yang penting, setidaknya, bisa sampai ke Hong Kong. Untuk bisa masuk Tiongkok –satu-satunya negara yang gila minum sop sarang burung walet.

Sampai sekarang baru 23 pengusaha yang boleh ekspor langsung ke Tiongkok. Sejak 2013. Belum ada kemajuan. Itu pun sudah lumayan. Sebelumnya hanya 6 pengusaha yang bisa melakukannya.

Itu juga sudah mendingan. Sebelumnya lagi justru nol. Selama sewindu. Sejak 1998 –atau sekitar itu.

Awalnya salah kita sendiri.

Cerita ini terkenal di kalangan pengusaha sarang burung walet Indonesia: seseorang, di Tiongkok sana, meninggal dunia. Almarhum sebenarnya datang ke sinshe untuk berobat. Oleh sinshe diberi minuman sarang burung walet.

Setelah diselidiki ketahuan: di jenazah korban mengandung terlalu banyak formalin. Sumbernya dari minuman berkhasiat asal Indonesia itu.

Para pengusaha walet tahu: yang mencampur formalin itu pedagang dari (sedih) Surabaya.

Sejak itu sarang burung dari Indonesia masuk daftar hitam. Ekspor pun macet. Harga sarang burung nyungsep. Dari Rp 22 juta/kg menjadi tinggal Rp 2 juta.

Kebangkrutan masal melanda dunia bisnis sarang burung. Si pengusaha Surabaya tiba-tiba meninggal dunia. Namanya diucapkan oleh semua pemilik sarang burung walet Indonesia, yang Sabtu lalu berkumpul di rumah saya.

Mengapa perbuatan tercela itu sampai dilakukan?

Ternyata punya tujuan ganda. Pertama bisa membuat kulit sarang burung menjadi glowing. Kedua, yang lebih jahat itu tadi: agar bobotnya naik.

"Dengan menambahkan formalin beratnya bisa naik 20 persen," ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Peternak Sarang Burung Walet Indonesia Jatim Dr Wahyudin Husein, SH, MH.

"Kalau harga satu kilogram Rp 22 juta, tambahan itu sudah bernilai Rp 4,4 juta," tambahnya.

Wahyudin adalah generasi keempat pengusaha walet di keluarganya. Ia mewarisi rumah sarang burung dari orang tua, kakek, buyut, dan canggahnya. Di Sedayu, Gresik. Di dekat pantai utara laut Jawa.

Ia bukan termasuk yang 23 pengusaha eksportir ke Tiongkok. Ia tidak pernah berhenti berjuang. Sampai ke Menteri Perdagangan. Belum berhasil.

"Di Jawa Timur saja masih 700 pengusaha yang belum bisa ekspor," katanya.