Energi Hijau, Solar Cell, dan Tambang Emas di Sumbawa

Energi Hijau, Solar Cell, dan Tambang Emas di Sumbawa Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Rekor terbesar pemasangan tenaga surya terjadi di Sumbawa Barat: 25 MW. Tapi apa benar solar cell mulai menggerogoti PLN?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway pagi ini, Kamis 7 Oktober 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com yang menurunkan secara lengkap. Khusus pembaca di BaBe, sebaiknya klik lihat artikel asli di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

BATU HIJAU, energi hijau. Titik. Begitulah. Rekor terbesar pemasangan tenaga surya terjadi di Sumbawa Barat: 25 MW.

Pemiliknya: PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Jenis usahanya: tambang emas. Lokasinya di Batu Hijau, Sumbawa Barat yang menghadap ke laut selatan.

Kalau Anda masih merasa informasi ini terlalu muter-muter, baiklah terang-terangan saja: lokasi itu dahulu disebut Newmont.

Kini Newmont sudah berubah nama menjadi Newmont Goldcorp. Yakni sejak membeli tambang emas terbesar di Kanada: Goldcorp. Ia sudah lepaskan tambang-tambang emas kecil seperti di Sumbawa. Newmont ingin menjadi penambang emas terbesar di dunia. Dengan memproduksi emas 7,9 juta ounce per tahun.

Yang di Sumbawa itu sudah dibeli oleh PT Medco milik pengusaha asal Gorontalo Arifin Panigoro. Grup Medco itulah yang membangun solar cell 25 MW tersebut. Itu hampir sama dengan seluruh listrik di Provinsi Maluku Utara.

Memang Disway pernah menulis rekor terbesar pemasangan solar cell dipegang PT PJB –anak perusahaan PLN: 100 MW. Lokasinya: di danau Cirata, Jabar. Di dekat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang juga dimiliki PJB. (Disway 5/1/2021).

Tapi itu baru akan. Sampai sekarang masih akan.

Belum lagi terlaksana rekor baru itu sudah pecah. Oleh proyek 1.000 MW. Hampir sama dengan keperluan listrik seluruh Kalimantan.

Lokasi proyek 1000 MW itu belum jelas. Mungkin di Batam. Dugaan di Batam itu berdasar publikasi bahwa hasil listriknya akan sepenuhnya diekspor ke Singapura. Ekspor listrik hijau.

Bukan main hebatnya. Kalau jadi kenyataan. Pemilik proyek itu juga anak perusahaan PLN: Indonesia Power.

Tapi, sekali lagi, juga masih akan.

Sedang yang 25 MW di Batu Hijau tadi sudah sedang terjadi. Bulan depan sudah bisa beroperasi.

Sumbawa memang salah satu pulau besar peminum BBM terbanyak –sampai PLN mabuk berkepanjangan. PLTU di Bima sudah bermasalah sejak belum dibangun –dan saya yang datang kemudian juga gagal menyelesaikan masalahnya.

Kini sebenarnya ada jalan mudah dan murah untuk Sumbawa: bangun saja kabel listrik bawah laut. Dari Lombok Timur. Selat Sumbawa itu hanya 18 Km. Pun tidak dalam. Arusnya juga tidak sederas di Selat Bali. Kebetulan sudah ada PLTU di Lombok Timur –milik seseorang yang Anda tahu itu.

Tapi Amman Mineral sudah punya jalan keluar sendiri. Ia tidak mau mabuk berkepanjangan. Ia putuskan cepat: bangun saja PLTS besar-besaran. PLN pun kehilangan pelanggan besar potensial.

Era PLTS memang kian terbukti. Pun ketika harga baterai masih mahal.

Amman Mineral memang tidak memerlukan baterai. Tambang emasnya hanya beroperasi di siang hari. Listrik dari matahari bisa langsung dipakai. Terutama untuk menggerakkan conveyor puluhan kilometer panjangnya. Ban berjalan itu mengangkut tanah tambang yang mengandung emas. Untuk diproses di pabriknya.

Apalagi matahari di Sumbawa lebih berkualitas dibanding di Jawa. Hanya kalah dari matahari di Flores atau Timor atau Ambon.

Kian ke timur, kualitas matahari memang kian tinggi –dari sudut kandungan listriknya. Ibarat skala 1-10, matahari di Sumbawa menghasilkan listrik 6. Di Flores 7. Di Ambon 8. Di Jakarta 5. Di Padang 4.

Simak berita selengkapnya ...