Inilah Inovasi Pertanian Jatim, Pertahankan Status Lumbung Pangan Nasional Terbesar

Inilah Inovasi Pertanian Jatim, Pertahankan Status Lumbung Pangan Nasional Terbesar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dalam acara panen jagung. Foto: ist

Tidak hanya surplus dan ekspor, tolok ukur keberhasilan pertanian Jawa Timur lainnya adalah Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur yang juga terus meningkat. Di bulan September 2021, NTP Jatim sebesar 100,58, atau mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen dibandingkan bulan Agustus 2021 sebesar 100,06.

Dua subsektor mengalami kenaikan NTP, yaitu subsektor tanaman pangan dengan kenaikan sebesar 1,78 persen, dan subsektor perikanan mengalami kenaikan sebesar 1,26 persen. Pada bulan ini di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan kenaikan NTP tertinggi ketiga yaitu 0,52 persen dari 100,06 menjadi 100,58.

Sementara nilai tukar nelayan per September 2021 menurut BPS tercatat sebesar 104,15 mengalami kenaikan sebesar 0,93 persen dibandingkan bulan Agustus 2021 sebesar 103,19. Indeks harga yang diterima (lt) bulan September 2021 sebesar 112,58 naik sebesar 0,88 persen dibandingkan bulan Agustus 2021 sebesar 111,60. Sementara indeks harga yang dibayar petani (lb) September 2021 sebesar 108,10, turun sebesar 0,05 persen dibandingkan dengan bulan Agustus 2021 sebesar 108,15. Artinya ada nilai tambah lebih besar yang diterima nelayan pada bulan September 2021 dibanding Agustus 2021.

"Kenaikan yang konsisten pada nilai NTP dan NTN merupakan salah satu indikator bahwa tingkat kesejahteraan petani dan nelayan di Jawa Timur terus membaik serta dapat menjadi bukti bahwa sektor pertanian selalu bertumbuh khususnya di tengah pandemi-Covid 19," imbuhnya.

Khofifah memaparkan, bahwa berdasarkan angka sementara BPS tahun 2021, produksi padi pada tahun 2021 di Jawa Timur di proyeksi masih tidak berbeda jauh dari tahun 2020. Bahkan, diprediksi mengalami kenaikan luas panen sebanyak 433 Ha sehingga potensi surplus tetap terjaga.

Harga gabah dan beras pada saat ini di tingkat petani menunjukkan diatas HPP dengan rata-rata sebesar Rp. 4.400,- dan harga beras rata-rata Rp. 8.450,-. Untuk harga jagung rata-rata saat ini, mulai menunjukkan trend turun Rp. 4.985,-. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim panen jagung yang dimulai bulan Oktober.

Pasokan pada bulan Oktober dan November akan meningkat tajam karena puncak panen berada di bulan November. Pada bulan Oktober, luas panen jagung mencapai 74 ribu Ha dengan produksi sekitar 467 ribu ton dan pada bulan November akan meningkat dengan luas tanam 84 ribu Ha dan produksi sebesar 564 ribu ton.

"Insyaallah, Jatim berkomitmen untuk selalu konsisten menjaga stabilitas pangan nasional termasuk meningkatkan kesejahteraan petani," kata Khofifah. (tim)