Operasi Jantung Manusia dengan Jantung Babi pada Hari ke-9

Operasi Jantung Manusia dengan Jantung Babi pada Hari ke-9 Dahlan Iskan

Banjir adalah genangan Hujan adalah kenangan

Gianto Kwee

Blending batubara tidak menggunakan mesin "Blender Raksasa" Untuk "Blending" Biasa dilakukan di area Stock Pile dengan Conveyor saat mengisi Tongkang atau kapal, Salam sehat

kang bambang

kesalahan besar 1. penguasa tdk menghukum perusahaan batubara yg tdk merehabilitasi bekas tambang. kerusakan lingkungan yg sangat dahsyattttt 2. penguasa tdk menghukum perusahaan tambang yg tdk mematuhi aturan dmo, aturan pajak, dll 3. krn penguasanya ada main uang dgn pengusaha atau penguasanya hanyalah boneka pengusaha 4. penguasa yg bobrok dipoles berita dan pencitraan sbg penguasa yg baik , anehnya byk yg tertipu waksss

Najih Ae

Beberapa waktu lalu saya plesir dari KALTIM ke KALSEL, via darat, naik Bus Malam, dengan biaya yang sangat terjangkau 235 rb, berangkat pukul 20.30 dari Balikpapan , tiba di tujuan Kabupaten Tapin KALSEL, pukul 08.30, anda bisa hitung sendiri total jam perjalanan saya. Tapi bukan itu Yang ingin saya ceritakan disini, betapa Ironinya ketika jalur penghubung antar propinsi penghasil Batubara dan Intan, serta calon Ibukota,. Masih belum ada TOL, apalagi kereta Cepat. Jika Abah bisa tidur nyenyak perjalanan Surabaya-Jakarta, DIJAMIN anda terhenyak-henyak, pantat loncat-loncat, untuk perjalanan KALTIM-KALSEL yang konon provinsi Penghasil Batubara yg harganya sedang selangit itu, yang sedang banyak Mega Proyek, tapi listriknya masih byar pet byar pet, jalanan sempit berlubang, Kayapa ini ? _____________________ Selanjutnya Jalanan Kaltim dari SAMARINDA - BERAU tidak usah saya ceritakan anda lebih tahu. _____________________ Selanjutnya Jalanan KALTIM - KALTENG , seperti apa kondisinya Anda sudah tahu _____________________ Belum lagi jalanan antar kabupaten yang mungkin 1 Kabupaten di Kaltim luasnya bisa 3 x lipat luas kabupaten di Jawa. ____________________ Saya Yakin banyak masyarakat DISWAY yang lebih tahu dan pengalaman di Kalimantan.

Teguh Wibowo

Baru tahu ada ajaran jawa "idu geni". Kalau ditelaah per kata idu itu artinya ludah dan geni itu artinya api. Maknanya silahkan diotak-atik gathuk sendiri.. hehe.. Saya sebenarnya juga punya falsafah sendiri yg agak mirip2 dg idu geni, yaitu "idu mambu", gk usah diartikan apalagi dibayangke.. nggilani.. hahaha.. "Jenengmu ki sopo le?" "Kulo Manggar Margono mbah" "Jenengmu kui artine apik le" "Artine nopo mbah?" "Manggar kui ateges Kembang, Margono kui artine Dalan. Kembange Dalan kui berarti...??? Tlethong....!!". Inget dagelan kethoprak jaman dulu hahaha...

Mbah Mars

Mas Teguh: itu Bhs Arabnya: fa fi fii fuuki (maka di bibirku ada bibirmu)

Bonjo

ini hanya pendapat saya. salah satu masalah dmo ini adalah kesesuaian spek batu bara yg ditambang oleh penambang tidak cocok dengan spek yg dibutuhkan pln. Ujungnya2 pln beli baturbara sama trader, pas harga lagi murah pln bisa dengan mudah dapat stock, tapi pas harga mahal pst pln ditinggal oleh trader2 tsb.

Udin Salemo

Mbah Mars, saya sudah pernah liat langsung wujud batu bara itu. Bahkan masih berada dalam perut bumi. Tahun 2007 inyong gawe tower BTS telkomsel setinggi 110 meter di Serongga, Kelumpang Hilir Kabupaten Kotabaru, Kalsel. Di gambar pelaksanaan konstruksi ada galian tanah sedalam 3 meter untuk tapak pondasi. Baru digali sedalam 2 meter sudah ketemu batu bara. Karena harus memenuhi spek gambar, maka yang 1 meter harus digali lagi yang berupa lapisan batu bara. Waktu itu belum ditambang. Menurut penduduk setempat batu baranya masih muda. Barusan saya lihat di google maps, daerah sekitar tower yang kami kerjakan dulu itu saat ini sudah seperti kubangan. Lobang besar disana sini. Beruntungnya disekitaran tambang itu terdapat kebun sawit sinarmas yang sangat luas. Kebun sawit itulah sepertinya yang menghambat tidak menambah lobang galian tambang lebih banyak. Saking luasnya kebun sawit sampai ada lapangan terbang punya perusahaan disitu.

Vevek

setuju, harus ada pemimpin revolusioner yang memoderatkan afghanistan agar bisa menjadi negara maju

Mohamad Selim

Menurut pengetahuan yg sy punyai.....bila dibentuk BLU tdk boleh mendptkan bantuan dr APBN dn tdk boleh mendapatkan keuntungan seperti BUMD atau BUMN. Shg didasarkan pd itulah, kelebihan stock BLU Batubara tdk boleh diperdagangkan seenak nya dn tetap utk keperluan dalam negeri. SWF tdk akan menaruh duit dn mngkin tdk laku krn tdk boleh menarik keuntungan dlm operasionalnya.

Sadewa

Saya berfikir tadinya kebijakan penghentian expor batubara adalah kebijakan yg sangat HEROIK. Pak Jokowi akan dikenang seperti Raja Faisal ketika menyetop expor minyak 49 tahun lalu. Saat itu Amerika & Eropa kelimpungan. Arab Saudi menjadi Petro dollar dalam waktu puluhan tahun kemudian. Baru kemaren Saya bener-bener merasa bangga menjadi orang Indonesia. Walaupun utang kita banyak namun kita bisa sejajar dengan pemberi utang. Ketika batubara kita stop, Jepang teriak, Korea teriak, China sebenernya juga hampir teriak. Batubara seperti kata Abah adalah game changer. Saya membayangkan ketika Korea byarpet, Jepang byarpet, China Byarpet. Kita Indonesia yg akan menggantikan posisi mereka. Mobil Esemka akan menggantikan mobil-mobil Jepang dan Korea, K-POP akan diganti dengan I-POP, BTS bisa diganti dengan Kangen Band, Ada Band atau Nidji (agar Mas Giring bisa nyanyi kembali), Restaurant Jepang di mall mall akan kita ganti dengan MARKOBAR atau Sang Pisang. Sin Tae Yong akan ogah balik ke negara nya. Black Pink sepenuhnya akan benar-benar Black, kaki yg bening & jenjang tidak bisa kelihatan lagi. Itu semua bayangan saya, mungkin juga Abah. Kita yg punya energi, kita yg seharusnya lebih berdaulat. Eh ternyata kebijakan stop expor batubara cuma sebentar. Terlalu dini sebelum mengenai jantung lawan. Atau meminjam istilah Om Leong, ini seperti ejakulasi dini. Lawan belum lemas, kita lemas duluan. TAMAT.

Buzzer NKRI .

ndak juga, kalo saya setuju dieksploitasi semaksimal mungkin saat ini begitu green energy mulai murah maka batubara tidak akan laku lagi

Jaka Lembayung

Menurut pendapat saya.. Lebih baik kalau tidak batubara tidak di ekspor lagi...sisakan untuk anak cucu kita..cadangan kita sudah tidak banyak...kalau kepala rumah tangga cuma bisa menjual harta warisan..maka kalau sudah habis..alamat menGEMBEL.

cumibuta

O singkatan dari Obligasi ya artinya kewajiban lah... tapi ada juga O singkatan lain yang artinya bukan kewajiban, tapi kalau istri yang ucapin: Mas, aku mau O...... nah tetep aja itu juga kewajiban suami, karna ga lucu kalo tetangga yang tunaikan... pasti semua sudah tahu. salam sehat semuaaa

yea aina

Perkebunan sawit lebih lama menerapkan BLU-BPDPKS, Tujuan awal didirikan merespon "keluhan" pekebun sawit skala besar terkait harga jual anjlog kala itu Manfaat dibentuknya toh tidak mampu menyanggah harga minyak goreng konsumsi rakyat saat ini. Berbeda BLU untuk penambang batu bara, di bentuk gegara PLN krisis tak dapat kiriman DMO BB, mungkin saja masalah PLN akan teratasi sekaligus bakal ada rezeky denbei berikutnya. Usul namanya Badan Pengelola Dana Rezeky Denbei Berikutnya (BPDRDB)

Ahmad Zuhri

Baru sekarang ada ide BLU batubara, lha trs yg sebelumnya itu pada ngapain aja.. Atau gini.. baru jaman Men BUMN yg sekarang toilet di SPBU gratis, lha trs Men BUMN yg sebelumnya itu ngapain aja.. Hihihi.. #kabur

Aryo Mbediun

Membaca artikel Gus Dahlan membawa kengenesan tersendiri terkait ketahanan energi di Indonesia. Dulu ada penulis yg menulis refinery di depan sumur minyak yg super efisien tapi tak disetujui pemerintah. PLTU Riau yg berada di mulut tambang juga sobek2 oleh patgulipat. Minyak zaman ibnu Surowo malah membawa nestapa korupsi yg menjadikan segolongan anak negeri super kaya dan mampu mempertahankan kekuasaan. Kayu kalimantan era Bob Hasan. Kuasa harta berotasi berputar hanya disegelintir keluarga. Kemarin yg green di Kaltara dan sekarang batubara juga berputar2 di individu2 itu. Mana OPTIMIS khan ternyata ming lamis. Pejabatnya dah seperti pisang, punya jantung tapi tak punya hati. Penambang juga githu, dari hutan belantara Borneo hingga gedung DPR semua bersatu berpadu mengeduk kekayaan tanpa peduli ibu pertiwi. Ketahanan energi Indonesia terlalu lemah. Ngenes lihat kasunyatan batubara ming trimo ngge rebutan di hadapan ratapan ibu pertiwi.

Mirza Mirwan

Saya baru saja duduk di meja makan, sepulang Jumatan, ketika si kecil -- yang akhir pekan ini tidak bisa pulang -- video call dan uring-uringan. Gegaranya membaca berita penolakan Komnas HAM terhadap tuntutan hukuman mati terhadap si bejat Herry Wirawan yang dibacakan Jaksa Asep Mulyana di Pengadilan Negeri Bandung Selasa yang lalu. Waktu itu si kecil sudah senang karena tuntutan jaksa sesuai dengan prediksinya. "Urgensi dibentuknya Komnas HAM itu kan untuk menjamin hak asasi manusia, bukan hak asasi binatang," kata si kecil. "Herry Wirawan itu kan bukan manusia, tetapi binatang. Lha kok Komnas HAM malah membelanya!" Saya hanya diam, mendegut ludah, menunggu kelanjutan kemarahan si kecil. "Okelah, bila dianggap buaya Herry itu manusia. Tetapi kesalahannya itu 'tumpuk-undhung'. Sebagai pemimpin pesantren, lembaga pendidikan agama, alih-alih melindungi santrinya, eh, ia malah mencabulinya bahkan sampai hamil dan melahirkan. Kesalahan itu tidak eksplisit tertulis dalam undang-undang perlindungan anak, memang. Tetapi jelas melanggar norma agama. Kalau Komnas HAM peduli dengan hak asasi buaya Herry, bagaimana dengan hak asasi para santriwati yang menjadi korbannya. Mereka kehilangan kegembiraan masa remajanya, tidak bisa lagi mengangkat muka untuk bisa memandang langit. Masa depan mereka suram gegara kebiadaban si buaya. Ya Allaaah....". Di layar ponsel saya lihat si kecil menyeka matanya. Tak terasa mata saya juga basah. "Kita berdoa saja, dik, semoga majelis hakim memvonis Herry sesuai tuntutan jaksa. Semoga pula para santriwati yang menjadi korbannya diberi ketabahan dalam melanjutkan kehidupan mereka." "Aamiiin. Niku bapak nembe badhe dhahar?" -- itu bapak baru mau makan? "Nggih, dik. Nembe mawon wangsul Jumatan." -- iya, dik, baru saja pulang Jumatan. "Oh, nggih mpun. Sugeng dhahar, Pak, salamullah 'alaik."

Komentator Spesialis

BLU ? Saya kok jadi ingat BPC cengkeh jaman Pak Harto dulu.

yea aina

Pertanyaan awam saya ke Abah Dis, Jika BLU rezeky denbey cuma menggantikan fungsi divisi pengadaan batubara PLN, mengapa tidak membenahi divisi tersebut saja? Pengawasan DMO, bagaimanapun ruwet mbuletnya, semestinya pihak kementerian ESDM yang bertanggung jawab menertibkan pelaksanaan aturan perundangan yang berlaku. Pelanggaran atas kewajiban tersebut berkonsekuensi "semestinya" bukan hanya denda yang besarannya sangat kecil tersebut. Pada akhirnya pembentukan BLU yang dipilih sebagai alternatif-yang diduga kuat oleh Abah Dis-bakal menjadi sumber pendapatan SWF-LPI-INA

Er Gham

Jika nanti BLU dibentuk dan bisa dibuat jalan tol dimana mana, pihak terkait agar benar2x memperhatikan kualitas jalannya. Ngeri jika banyak lubang di jalan tol yang asal buat. Di Aceh, jalan dari Pidie ke Banda Aceh disebut Jalan Amerika karena mandornya orang Amerika pasca tsunami. Kualitas jalannya bagus. Begitu pula dari Atambua s.d. Kupang disebut jalan Australia karena mandornya orang Australia. Bagaimana jalan tol yang mandornya orang Indonesia? Anda sudah tahu.