Gus Solah saat dikunjungi Jusuf Kalla
Menurut Gus Solah, seorang Ketua Umum Tanidziah PBNU harus banyak bekerja di sektor ranah praksis dan bisa menjawab kebutuhan kongkrit masyarakat. ”Harus ada pembagian tugas antara Rais Am dan Ketua Umum Tanfidziah,” katanya.
Gus Solah mengaku punya obsesi besar tentang NU. ”Kita harus mengembalikan kejayaan NU,” kata alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Sebelumnya, ketika menjadi nara sumber di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok Jawa Barat, Gus Solah bercerita bahwa sewaktu masih kecil pernah diajak ayahnya, KH A Wahid Hasyim (putera Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng), untuk mengunjungi percetakan milik NU yaitu YAMUNU.
”Pada jaman itu (50-an) NU sudah punya percetakan besar. Sekarang kita tak punya,” tegas Gus Solah. Karena itu Gus Solah optimis bisa memperbaiki manajemen dan leadership NU. ”Jangan percaya mitos bahwa NU tak bisa diperbaiki,” tegas Gus Solah yang mantan Wakil Ketua PMII Bandung ini.
Yang menarik, Gus Solah mengaku pernah dilarang duduk sebagai pengurus PBNU oleh kakaknya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
”Waktu Gus Dur jadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur bilang: saya (Gus Dur) sudah di sini (PBNU), kamu (Gus Solah) nggak usah. Nanti aja setelah saya (setelah Gus Dur tak menjabat),” ungkap Gus Solah menceritakan permintaan Gus Dur disambut tawa peserta.
Presiden RI keempat itu menjabat Ketua Umum PBNU selama tiga periode. Gus Solah kemudian lebih banyak bekerja. Namun Gus Solah yang mantan Wakil Ketua Komnas HAM itu mengaku banyak uang setelah tak bekerja. “Uang saya lebih banyak setelah tak bekerja,” katanya lagi-lagi disambut tawa peserta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




