Haji Muhammad Faiz Abdul Rozzaq saat menunjukkan sejumlah karyanya.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Umat muslim di dunia yang menjalankan ibadah haji, mungkin banyak yang belum tahu bahwa yang menulis kaligrafi di kiswah Ka’bah adalah warga Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Ya, dia adalah Haji Muhammad Faiz Abdul Rozzaq, warga Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
BACA JUGA:
- Kader PDIP di Kabupaten Pasuruan ini Laporkan Dugaan Pemalsuan Dokumen ke Polisi
- Bus Trans Jatim Masuk Pasuruan pada 2027, Pemkab Tunggu Petunjuk Teknis
- Prof Kiai Imam Ghazali: Haji 2026 Lancar karena Menhaj dan Amirul Hujjaj Tidak Leha-Leha
- 2 Hari Tak Keluar Rumah, Pria di Pasuruan ini Ditemukan Tewas
Keahliannya menulis kaligrafi sudah diakui dunia. Sampai ia dijuluki maestro kaligrafi.
Bahkan, ia sudah pernah menulis kaligrafi di 40 masjid sepenjuru nusantara.
Meski usianya sudah 85 tahun, namun Faiz masih bisa membaca tanpa mengenakan kacamata.
Bahkan, kakek yang sudah dikaruniai 8 anak dan 16 cucu ini masih aktif menulis kaligrafi.

Beberapa karya Faiz adalah kaligrafi di Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Nasional Istiqlal, Masjid Agung Bengkulu, Masjid Polda Kendari, Masjid Agung Nurul Fallah Kaltim, serta puluhan masjid lainnya di Indonesia.
“Saya menulis, membantu orang tua sejak SMP kelas satu, tahun 1954 sampai sekarang,” katanya.
Faiz yang saat ini menjadi Dewan Pengawas Kaligrafi Nasional tersebut juga pernah dipercaya menulis kaligrafi untuk kiswah ka'bah, makkah. Hal itu terjadi di era tahun tujuh puluhan.
“Tiap-tiap bulan Rajab dicopot (kiswah). Sampai saat ini, tiap setahun sekali kiswah Ka’bah itu dicopot. Amir-amir, anak-anak raja ini, anak raja bukan satu atau dua, tapi puluhan itu, ngambil tulisannya ini (kiswah). Sebab, tulisan ini dari emas, emas murni, 45 kilo jumlah ini. Saya waktu itu desain saja. Waktu itu entah kejadian bagaimana, saya ke Mesir. Sejak tidak aman ke Turki. Mereka tahu ada saya, saya suruh menulisnya (kaligrafi di kiswah). Bahkan stempel dari atase Saudi Arabia seluruh Indonesia, itu saya yang bikin,” ceritanya.
“Ya, mungkin ini hidayah dari Allah. Karena orang tua saya juga hidupnya dari kalangan pesantren. Bahkan kerjanya juga yang ada kaitannya dengan pesantren, nulis kitab-kitab. Cuman zaman dulu belum ada namanya klise. Jadi nulis, kemudian dicetak,” bebernya.
Dari sanalah keahliannya membuat kaligrafi akhirnya diakui oleh dunia. Ia pun sibuk melayani pesanan desain kaligrafi dari masjid di seluruh Indonesia.
Ada sekira 7 jenis model penulisan kaligrafi yang dibuat oleh Faiz. Model tulisan tersebut digunakan sesuai dengan pesanan yang diterima.

Faiz berharap kaligrafer-kaligrafer muda di Indonesia dapat terus mengasah kemampuannya. Sehingga Indonesia tetap dikenal sebagai tempatnya seniman kaligrafi.
Menurutnya, yang terpenting adalah bisa mengutamakan arti kata dari penulisan kaligrafi. (par/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




