Sang Proklamator dan Presiden RI Pertama, Soekarno.
"Kalau sejak kecil anak-anak, kita didik dengan perilaku yang baik dan rasa bangga terhadap Pancasila, saya kira tidak akan seperti itu kesadaran kebangsaan generasi muda kita. Jadi jangan kita salahkan anak muda, mereka itu korban. Kita sendiri yang salah," ujar Kushartono.
Menurutnya, membangun kesadaran kebangsaan harus melibatkan tiga komponen atau tri manunggal. Yaitu orang tua, masyarakat, atau lingkungan dan lembaga pendidikan.
"Untuk itu, saya rasa penting menyadarkan masyarakat khususnya Kediri bahwa Presiden Pertama RI ternyata juga mengaku sebagai keturunan Kediri. Sebagaimana dituliskan dalam biografinya yang sangat terkenal Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. 'Bapakku adalah Keturunan Sultan Kerajaan Kediri', kata Soekarno, sebagaimana tertuang dalam halaman 23," imbuh Kushartono.
Menurutnya, tidak akan ada yang bisa membantah jika Soekarno masih keturunan Kediri. Ia yakin tidak akan ada sejarawan yang dapat membantah jika Bapak Bangsa Soekarno adalah keturunan darah Kediri karena datanya sangat kuat.
Otobiografi Soekarno karya Cindy Adams halaman 23 yang menyebutkan keturunan Sultan Kediri tersebut adalah versi terjemahan Bahasa Indonesia. Sementara, versi aslinya yang berbahasa Inggris dalam halaman 19 sama persis juga menyebut Sultan Kediri. My father was from Java. His full name was Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden is a title of nobility meaning “Lord.” Father was descended from the Sultan of Kediri.
"Jadi ini makin menarik, kita sebut Tri Manunggal Jati dari bumi Kediri. Pancasila, nama Soekarno, dan darah Soekarno semua mengindikasikan Kediri. Ada pesan moral kembalinya jati diri bangsa Indonesia. Untuk itu mohon doa restu dan mari ikuti doa dan diskusi terbuka Haul Bung Karno dengan tema "Orang Kediri Harus Mengerti, Ternyata Soekarno Keturunan Kediri," pungkas Kushartono. (uji/git)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




