Ilustrasi.
Subhanallah, setiap kali makan ular sihir, maka ukuran bodinya bertambah besar sesuai mangsa yang ditelan. Makin banyak yang ditelan, maka makin besar dan makin galak, makin kelaparan, hingga semua ular sihir habis tak tersisa. Meski ular itu sangat liar, tetapi tidak satu pun manusia di gelanggang itu yang dilalap.
Hanya menuju ke arah Fir’aun, dan gelagatnya mau nguntal Fir’aun. Namun Musa A.S. bergerak lebih cepat dan menangkap ular mukjizat itu hingga Fir’aun selamat. Sejatinya Musa juga takut kepada ular mukjizatnya sendiri, tetapi Tuhan memerintahkan agar segera ditangkap dan nyatanya ular berubah menjadi tongkat kembali.
Drama yang diperagakan dalam ayat kaji ini banyak pelajaran yang bisa dipetik, antara lain:
Pertama, sebagai insan dakwah, ustadz, atau apa saja seyogianya melengkapi diri dengan modal yang dibutuhkan. Utamanya ilmu, kecedersan, kebijakan, dan kanoragan. Jangan sampai ada kelemahan fatal yang menyebabkan sang juru dakwah tidak berwibawa apa-apa.
Nabi Ayyub A.S. yang diuji Tuhan dengan kekurangan habis-habisan, kesehatannya rusak, dan sakitnya berkepanjangan. Semua hartanya habis, istrinya minggat, dan anak-anaknya tidak peduli. Hal demikian ternyata berakibat buruk terhadap misi dakwah yang diembannya. Masyarakat tidak hanya menjauh, bahkan merendahkan. Tetapi, akhirnya Tuhan memulihkan kembali.
Nabi Musa A.S. punya kelemahan di bidang orasi, tetapi tidak fatal, karena yang dibutuhkan adalah jagoan bertarung melawan Fir’aun yang pongah dan kejam. Khusus ini, okol lebih dibutuhkan dibanding akal.
Kekuatan fisik lebih diutamakan daripada orasi ilmiah. Makanya diback-up dengan kakaknya, Harun A.S. yang orasinya lebih fasih dan lembut tutur katanya sebagai penyimbang. Inilah kerja tim yang bagus.
Kedua, dalam memulai pertarungan, nabi Musa A.S. tidak mau memulai lebih dahulu, melainkan musuh dipersilakan beraksi duluan. “bal alqu..”. Hikmahnya, agar bisa membaca sekaligus menjajaki kemampuan musuh. Teknik apa yang mereka pakai, kekuatannya seberapa, dan seterusnya.
Sisi lain, agar tidak terkesan bahwa Nabi Musa yang jahat, sok jagoan dan menantang, melainkan ditantang dan sebatas meladeni saja. Untuk itu, semua perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sifatnya mempertahankan diri, setelah pembicaraan di meja runding gagal.
Artinya, bukan diri umat islam yang ambisi dan berkepentingan berperang, malainkan murni mematuhi perintah Allah SWT. Maka bahasanya menjadi jihad “fi sabilillah”. Kemudian dibuktikan dengan aturan-aturan yang sangat manusiawi. Seperti tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, pendeta, merusak bangunan, pepohonan, dan lain-lain.
Bahkan, musuh yang sudah dilumpuhkan, tidak berdaya dan menyerah, tidak boleh dihabisi dan seterusnya. Begitulah syariah Islam, meski dalam pertempuran melawan musuh-musuh agama, nilai humanistik tetap dijunjung tinggi.
Usamah ibn Zaid pernah menghabisi musuh macam itu, bahkan sudah membaca dua kalimah syahadat. Nabi Muhammad SAW mendengar khabar tersebut dan Usamah dipanggil agar segera menghadap.
“Benarkah demikian, wahai Usamah..?”. Tanya Nabi serius. Jawab Usamah: “Ya, benar. Tapi saya mengerti betul sifat dia yang licik. Ucapan syahadah itu hanya untuk penyelamatan dirinya saja, Li isqath al-silah”.
Rasulullah SAW makin marah dan membentak: “Apa kamu sudah membedah dadanya dan mengetahui niat dia memang begitu..”. Lalu, beliau berikrar: “Ya Tuhan saksikanlah, bahwa saya pribadi sama sekali tidak ikut-ikut, saya lepas tangan dari apa yang Usamah lakukan..”.
Ketiga, meskipun berderajat Nabi, tapi tetap manusia. Sifat-sifat manusia tetap melekat pada diri sang nabi tersebut, walau sebagian. Nabi Musa A.S. tetap takut saat terkepung ular-ular tukang sihir yang sangar-sangar. Tetapi Allah SWT sangat cepat bertindak dan memberi bimbingan. Begitu halnya orang-orang shalih atau kita yang manusia biasa. Kadang ada keajaiban yang tak terduga yang kita alamai.
Keempat, memanfaatkan potensi diri pada waktu yang tepat. Tongkat nabi Musa A.S. dipergunakan pada waktu yang tepat, sehingga manfaatnya nyata dan bisa dirasakan. Artinya, kita perlu memiliki potensi diri sebaik-baiknya dan sebanyak-bantaknya. Suatu ketika kita nanti membutuhkan. Seperti nabi Musa A.S. yang berlatih lebih dahulu di gurun Sinai, baru dirasakan manfaatnya di medan laga.
Kelima, optimis pangkal sukses, pesimis pangkal gagal. Nabi Musa A.S. yang takut sebelum bertanding dimarahi oleh Tuhan, “La takhaf”. Jangan takut, kamu itu nabi dalam perlindunganKu. Lalu diyakinkan, disemangati, dibesarkan hatinya, ditunjukkan potensinya: “Innak ant al-a’ka”. Sesungguhnya kamu itu unggul, berkemampuan hebat, dan pasti menang.
Keenam, “innak ant al-a’la” menyiratkan nasihat kepada semua guru, pembimbing, tutor, pelatih, dan sebangsanya mesti memberi semangat dan meyakinkan anak didiknya sebagai “bisa”, sebagai “unggul”, sebagai “menang”, dan seterusnya. Utamanya pada saat yang tepat dan sangat dibutuhkan. Jangan sampai malah mengendorkan semangat.
Ketujuh, kebatilan pasti runtuh di hadapan kebenaran. “wa la yuflih al-sahir haits ata”. Ular-ular sihir yang jumlahnya se lapangan penuh ternyata habis dilapap oleh ular mukjizat yang cuma satu. Tuhan tidak bisa dikalahkan.
Kedelapan, “wala yuflih al-sahir haits ata”. Potongan ayat ini juga memberi isyarat, bahwa sehebat apapun ilmu syetan, ilmu sihir pasti bisa ditangkis, bisa disahali dan bisa dilemahkan. Tidak sama dengan mukjizat yang mesti unggul selalu dan tidak bisa dipatahkan. Allah a’lam.
*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengajar di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




