Optimalisasi dan Tantangan Literasi Menulis bagi Mahasiswa !!!

Optimalisasi dan Tantangan Literasi Menulis bagi Mahasiswa !!!

Oleh: Surokim As

SENGAJA judul tulisan ini saya tebalkan dan memakai tanda seru sebagai penekanan untuk mengingatkan diri saya sendiri dan juga para kolega dosen, tendik, mahasiswa dan semua civitas academica.

Secara khusus melalui tulisan ini saya berharap agar para mahasiswa bisa menyadari, terus belajar, bisa konsisten, pantang menyerah, dan produktif menulis sepanjang waktu. Mereka tiada henti mengasah diri, mengembangkan kompetensi dan kapasitas menulis secara berkelanjutan.

Banyak civitas academica hingga kini masih mengeluh bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menulis. Padahal pada saat mereka diminta bercerita tentang sesuatu – apalagi yang ia sukai – mereka bisa cerita panjang lebar. Apalagi kalau cerita tersebut terkait diri dan passionnya maka cerita itu bisa berjilid-jilid. Bahkan cerita itu bisa mengalir jauh, hingga kadang susah berhenti. Nah, budaya komunikasi lisan masih dominan jika dibandingkan dengan komunikasi tulis.

Potret dan fakta seperti itu banyak kita temukan dalam kehidupan sehati-hari di kampus dan lingkungan kita. Berbalikan dengan kemampuan menulis yang masih minimalis. Padahal karya tulis civitas academica bisa menjadi salah satu tolok ukur bagi keberhasilan dan produktivitas sebuah institusi kampus.

Publikasi hasil penulisan bisa membawa perubahan kelas dari perguruan tinggi baik di level nasional maupun internasional. Karya tulis tersebuti bisa memberi kontribusi signifikan terhadap kinerja lembaga, level pemeringkatan lembaga. Selain itu karya tulis kampus bisa terdistribusi dan terkomunikasi luas kepada masyarakat dan pembaca tanpa terhalang ruang dan waktu.

Dampak publikasi tulisan tentu saja akan kompleks dan impactfull. Tidak hanya untuk eksistensi kampus, akreditasi, tetapi juga untuk promosi dan daya saing.

Kian banyak tulisan warga kampus dibaca, dirujuk, disitasi, dan disebarluaskan maka karya tulisan civitas academica akan kian meluas dan memberi dampak terhadap produktivitas lembaga tersebut.

Kampus akan kian dikenal publik sehingga bisa berpengaruh terhadap citra, reputasi dan portofolio publik. Dari titik ini kampus akan bisa menjadi rujukan, penerang, dan mata air pengetahuan tiada henti bagi masyarakat luas.

Terkait , saya masih ingat betul kata guru saya Prof Redi Panuju (2018), sosok penulis produktif yang juga novelis, bahwa keterampilan menulis itu bisa menguatkan kewarasan dan produktivitas berfikir.

Menulis itu tambahnya sama halnya dengan menancapkan pengetahuan untuk jangka panjang (long2 term) dan menempatkannya berada di belahan otak kanan kita.

Bahkan beliau pernah menulis buku yang berjudul menulislah dengan marah. Konon katanya itu hanya letupan emosi dan sebagai katalisator emosi dan energi negatif agar menjadi energi positif.

Para ahli juga banyak yang mengemukakan pendapatnya bahwa kemampuan dan keterampilan menulis warga itu berbanding lurus dengan kemajuan sebuah negara. Kian produktif warganya menulis, kian maju negara tersebut.

Menjadikan menulis sebagai habit tentu saja tidak gampang karena hal ini berkaitan dengan budaya belajar dan membaca warga. Jika kita menyimak data riset menyebutkan bahwa kemampuan membaca buku warga Indonesia masih dibawa satu buku per tahun. Coba bandingkan dengan negara maju yang bisa mencapai 15 hingga 203 buku pertahun. Hal ini yang memengaruhi dan membuat habit menulis kita masih rendah.

Namun, kita harus optimistik. Sebagaimana pernah disampaikan Hernowo (2017) menulis itu sesungguhnya tidaklah sulit. Menulis itu mudah jika dilakukan dengan bebas, riang gembira, dan bahagia.

Tips praktis dari Hernowo (2017) agar kita bisa menulis dengan mudah adalah menulis apa yang kita sukai dan menulis apapun yang dapat kita tulis.

Hernowo (2017) juga menyarankan agar kita bisa menulis tentang apa saja dengan bebas tanpa harus terikat pada ketentuan apapun pada saat pertama kali menulis. Biarkan ketikan itu mengalir, berjalan mengikuti arah perasaan dan kata hati kita.

Jangan berpikir terlalu rumit dan berat yang bisa menghalangi kreativitas dan imajinasi. Termasuk jangan terlalu banyak memikirkan nanti begini, nanti begitu sehingga mengganggu pikiran dan membuat aktivitas menulis menjadi kegiatan yang melelahkan, menjemukan, dan kerap membikin ide menjadi macet.

Hilangkan semua kendala kendala itu hingga menulis bisa mengalir begitu saja tanpa halangan. Bahkan mendasarkan pengalaman beberapa ahli, mereka bisa menulis sambil mendengarkan lagu dan diiringi musik yang disenangi.

Terlalu banyak rambu dan aturan akan membuat kemampuan dan daya tahan menulis kita terganggu. Bisa jadi hal ini yang membuat kita mudah capek dan terbebani.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO