Optimalisasi dan Tantangan Literasi Menulis bagi Mahasiswa !!!

Optimalisasi dan Tantangan Literasi Menulis bagi Mahasiswa !!!

Hernowo (2017) mengungkapkan bahwa pada tahap awal dalam menulis bebas (free writing) adalah dengan membuang semua sampah dan hal yang tidak diperlukan. Semua itu menjadi mental block  dalam menulis secara bebas. Oleh karena itu buang semua sehingga tidak ada yang menghalangi.

Menulislah dengan bebas laksana sedang menulis surat kepada orang yang kita cintai. Mari memulai menulis dengan riang gembira. Memulai menulis dengan memakai strategi otak kanan yang bebas dan membebaskan baru kemudian mengedit dengan menggunakan otak kiri yang sistematis dan logis.

Bebaskan saja dan mengalir semampunya kala menulis. Jangan terikat pada aturan dan beban apapun. Dengan begitu menulis menjadi menjadi lebih ringan, rekreatif, dan mengasyikkan.

Kita bisa menuliskan apa saja untuk refreshing, menghibur diri. Kita bisa pengembangankan diri, mengomunikasikan penhalaman dan juga ilmu pengetahuan mutakhir. Bahkan jika tulisan kita mendadak dibaca khalayak luas dan kemudian disukai karena bisa menginspirasi dan menjadi kontrol sosial edukasi serta bisa memerjuangkan masyarakat anggap saja itu sebagai bonus.

Tulisan memang bisa menjadi medium aspirasi dan inspirasi. Ia bisa mengabarkan berbagai aktivitas kepada publik sekaligus bisa menjadi medium untuk berbagi.

Kita tidak perlu terobsesi menjadi penulis andal, disenangi, digemarin banyak orang. Jadikan tulisan sebagai ruang healing saja sehingga kita bisa mengeluarkan uneg-uneg, emosi, kemarahan yang terpendam untuk diungkapkan. Menulis akhirnya bisa menjadi terapi jiwa dan dan bisa menjadi katalis serta menjadi obat segala masalah.

Ya saya setuju menulis harus santai dan harus diibaratkan sebagai asupan makanan bergizi. Laksana makanan yang kita senangi dan kita sukai sehingga bisa menjadi kebutuhan tanpa keterpaksaan. Menulis bisa menyemangati, menggerakan, menyembuhkan dan memotivasi diri dan orang lain untuk menjadi lebih baik.

Berkarya dan berekpresi melalui tulisan akan melatih nalar kita menjadi obyektif. Bisa empatik dan menenggang rasa liyan, serta tanpa terasa kita akan menjadi lebih kritis dan juga arif dan bijaksana.

Sudah banyak para ahli menyarankan bahwa menulis bisa melatih kesabaran. Dengan mengikat makna, menyembuhkan diri. Bahkan menulis bisa mendatangkan rezeki dan menambah penghasilan.

Dengan menulis kita bisa mengekspresikan semua potensi yang kita miliki. Melalui tulisan itu kita bisa menginspirasi dan mengerakkan kebaikan. Menulis juga bisa menjadi shodaqoh jariyah yang baik untuk peradaban, alam, dan kehidupan sosial.

Ikhtiar untuk mentradisikan menulis sebagai salah satu habit adalah bagian dari penguatan literasi abad 21 yang penting. Sejauh ini harus diakui literasi menulis warga kita masih kurang. Masyarakat kita masih banyak yang menjadi loooking society belum move on bergeser menjadi reading society, writing society dan learning society. Literasi menulis kita masih dalam kategori rendah.

Prof Bagong Suyanto (2024), guru saya di Fisip Unair yang selalu meminta mahasiswa menulis sering mengemukakan bahwa menulis adalah media untuk membiasakan diri berdebat secara ilmiah. Menjadi penulis akan membuka peluang akademik yang bisa diambil dan dijalani mahasiswa sebagai bagian dari kelompok intelektual.

Mari kita mulai menulis. Mari mengubah dunia ini lewat keterampilan menulis. Dimulai dari kebiasaan membaca lalu menuliskan dan mengikat maknanya.

Berlatih dan terus berlatih. Selalu aktif menanyakan, tidak langsung memercayai (skeptis) dan menguatkan rasa ingin tahu (curiosity) terhadap fenomena disekitar kita akan melatih daya insting menulis.

Dengan menulis terus menerus tanpa sadari akan menguatan kualitas pengetahuan kita. Kita akan terlatih untuk cek dan ricek serta melakukan berbagai triangulasi untuk memperkaya tulisan kita. Akhirnya tanpa kita sadaro pandangan dan pendapat kita akan menjadi lebih berbobot penuh makna.

Seiring dengan kemajuan teknologi, keterampilan menulis akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, khususnya berkaitan dengan plagiasi dan similiariti. Seiring dengan kemajuan teknologi chat gpt2 dst dan teknologi AI yang lain. Namun, yakinlah bahwa menulis sendiri tanpa bantuan teknologi selain melatih originalitas juga akan lebih lebih manusiawi dan hakiki.

Selanjutnya dalam menulis lanjutan kita bisa mendasarkan pada prinsip kemaslahatan publik yakni2 penting bagi publik (public’s importance), nyaman bagi publik (Public’s convenience) dan dibutuhkan public (public’s necessity) atau yang disingkat sebagai PICON.

Guna menghindari plagiasi maka sebagai penulis kita harus memiliki integritas dan etika akademis. Kita harus berani jujur mengakui dan gentle menyebut nama penulis dalam referensi. Hal itu merupakan bagian dari respek dan memberi kehormatan atas sumber kutipan yang kita rujuk.

Mari kita ciptakan peradaban baru dengan aktif menulis. Mari produktif menulis untuk menebar kebaikan di ruang publik milik kita bersama.

(Penulis adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama , Madura)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO