Dahlan Iskan
Kemudian kita salat isyak. Empat rakaat. “Berarti kita baca dua kali syahadat. Kita jumlah lagi. Total 9 kali kita baca syahadat, sejak subuh hingga isyak. Pak Dahlan Iskan juga salat lima waktu. Berarti beliau baca syahadat 9 kali dalam sehari semalam. Masak begini ini kita hukumi murtad,” beber Mas'ud.
Menurut Mas’ud Adnan, Dahlan Iskan sangat aktif salat lima waktu tiap hari.
“Bahkan tiap bulan suci Ramadlan Pak Dahlan bersama istrinya, Bu Nafsiah Dahlan, selalu umrah di tanah suci. Masak orang kayak gini kita hukumi murtad,” katanya.
“Padahal orang-orang yang menuduh murtad itu belum tentu tiap Ramadan ke Makkah,” tambahnya.
Apalagi, kata Mas’ud Adnan, Dahlan Iskam saat ikut memikul tandu dewa itu ingat Kitab Arbain (kumpulan 40 Hadits Nabi Muhammad SAW).
“Salah satu Hadits itu adalah Innamal a’malu binniat. Yang artinya, setiap perbuatan tergantung niatnya. Berarti Pak Dahlan bisa memilah dan niatnya bukan ikut ibadah,” kata Mas’ud Adnan.
“Lha iya sudah begitu para takfiri itu masih ngotot mengkafirkan,” tambahnya.
Lalu bagaimana soal Dahlan Iskan mengaku jadi anggota dan jadi aktivis agama Budha Tzu Chi?
“Kan agama itu sudah jelas. Kata Pak Dahlan, agama itu tak ada sembahyangnya, gak ada doanya, bahkan gak ada tempat ibadahnya. Tapi hanya fokus pada membantu orang tak mampu. Berarti gak perlu mengubah keyakinan. Tapi cukup aktif dalam kegiatan sosial,” kata Mas’ud Adnan.
Menurut Mas’ud Adnan, seharusmya kita justru mengambil inspirasi dari kasus agama tersebut.
“Sebab agama Islam sangat menekankan pentingya membantu orang. Kata Hadits Rasulullah, khairunnas ‘anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Bahkan, kata Mas’ud, ada Hadits Kadal faqru ayyakuna kufron. “Bahwa kemiskinan dan kefakiraan itu bisa menyebabkan orang memilih jalan yang salah yaitu kekufuran. Jadi kalau kita ingin menangkal kekufuran kita harus banyak turun ke masyarakat miskin untuk membantu, memberi mermeka atau punya komitmen sosial yang tinggi, serta peduli pada anak yatim, anak-anak putus sekolah, tak mampu sekolah, fakir miskin dan sebagainya. Itulah yang disebut kesalehan sosial,” katanya.
“Jadi jangan tuding sana-tuding sini kafir, murad, tapi kita tak berbuat apa-apa. Itulah yang disebut pendusta agama oleh Surat Al-Ma’un ayat 1 hingga 3,” tegas Mas’ud Adnan. (*/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




