Salah satu rumah ternak di Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Peternak di Desa Kelutan Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, mengeluhkan merosotnya harga hewan ternak, baik sapi maupun kambing, beberapa minggu belakangan ini.
"Biasanya harga sapi itu bisa Rp20 juta, kini hanya bisa laku Rp12 juta," ungkap Suhardjito, salah satu pedagang sapi di Desa Kelutan, Selasa (28/1/2025).
BACA JUGA:
- HUT ke-1089 Nganjuk, Bupati Tekankan Sejarah Manusuk Sima dan Ajak Warga Bersinergi
- Bupati Kediri, Jombang dan Nganjuk Rembug Pembangunan Flyover Mengkreng
- Pasar Murah di Nganjuk Diserbu Warga, Gubernur Khofifah: Kendalikan Inflasi, Stabilkan Harga Bapok
- Kejati Jatim Bekali Ribuan Santri Ponpes Al Ubaidah Wawasan Kebangsaan dan Toleransi Beragama
Menurut Suhardjito, anjloknya harga hewan ternak disebabkan penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Nganjuk.
Ia menyebut, wabah PMK membuat masyarakat berpikir dua kali untuk membeli daging sapi atau kambing.
Diakui Suhardjito, sejumlah hewan ternaknya juga terjangkit penyakit PMK. Hal itu ditandai dengan lepuhan pada mulut dan kuku hewan ternak.
Beruntung, ternak miliknya yang terjangkit PMK hanya sapi. Tidak sampai menular pada kambing miliknya.






