Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Nabi Sulaiman A.S. menempuh jarak jauh pakai kendaraan sajadah yang digelar dan diduduki, lalu angin menerbangkannya sesuai kehendak dan perintah beliau, baik kecepatan maupun tujuan. Tanpa mesin dan tanpa radar, sajadah itu selalu mendarat dengan mulus.
Belum lagi Rasulullah SAW yang terbang dalam ekspedisi isra’ wa mi’raj. Pakai kecepatan apa itu? Sungguh semua itu lepas dari hukum ruang dan waktu.
Bagi yang menggunakan ilmu fisika saja, maka akan kafir dan tidak parcaya. Tapi tidak bagi yang beriman, maka apa saja bisa terjadi atas izin Tuhan yang maha kuasa.
Katanya, para wali songo dulu pernah kumpul dan musyawarah di Demak. Jika kisah itu benar, maka ada kejanggalan secara alamiah. Pertama, bahwa mereka tidak hidup dalam satu kurun waktu. Kanjeng Sunan Ampel sudah lama wafat, sedangkan Sunan Kali Jaga belum lahir.
Jadi, yang hadir waktu itu, salah satunya pasti ada yang sudah wafat, yakni ruhnya saja. Bisakah demikian? Ingat, bahwa para nabi, syuhada’, dan orang-orang shalih itu “hidup”. “Bal ahya’”.
Kedua, jika mereka masih hidup, maka bagaimana cara mereka menempuh jarak jauh seperti itu? Sementara belum ada kendaraan dan jalan belum seperti sekarang. Mereka dari daerah yang berjauhan, ada yang dari Cirebon, Kudus, Surabaya, dan lain-lain. Untuk ini, jawabannya begini:
Kata seorang kiai yang ahli begitu-begituan, bahwa orang-orang hebat zaman dulu itu punya aji-aji melipat bumi, memperpendek jarak sesuai kebutuhan. Itulah aji-aji atau wirid yang disebut “Thay al-ardl”.
Adapun ayatnya seperti ini, yaitu “Yaum nathwi al-sama’ kathayy al-sijill li al-kutub...”. Entah puasa dulu atau hanya dibaca sekian kali saja, Allah a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




