"Pertumbuhan kredit melambat dibanding periode sebelumnya, dipengaruhi penurunan kredit pada sektor Industri Pengolahan sebesar negatif 37,12% (YoY),"terangnya.
Dijelaskan Ismirani, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 2,97 persen (YoY) menjadi sebesar Rp105,49 triliun. Berdasarkan jenisnya, porsi DPK didominasi oleh tabungan dan deposito masing-masing sebesar 64,30 persen dan 26,19 persen.
Industri BPR/BPRS mengalami perlambatan dengan penyaluran kredit turun sebesar 14,56 persen (YoY) menjadi sebesar Rp3,26 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga turun sebesar 14,40 persen (YoY) menjadi sebesar Rp3,07 triliun.
Penurunan ini, lanjut Ismirani , dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah entitas BPR/BPRS dari 69 pada Juni 2024 menjadi 66 pada Juni 2025 akibat relokasi Kantor Pusat keluar wilayah kerja OJK Kediri, dan self liquidation.
Meski demikian, permodalan BPR/BPRS tetap solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 52,49 persen, tingkat ketersediaan likuiditas memadai dengan cash ratio sebesar 19,55 persen dan rasio LDR/FDR sebesar 101,82 persen.
Masih menurut Ismirani, Inklusi Pasar Modal di wilayah kerja OJK Kediri terus menunjukkan pertumbuhan positif. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah Single Investor Identification (SID) yang mencapai 17,98 persen (YoY) menjadi 446.700 SID.
Outstanding piutang Perusahaan Pembiayaan di wilayah OJK Kediri posisi Juni 2025 mencapai Rp6,84 triliun atau tumbuh sebesar 3,46 persen (YoY). Rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 4,32 persen, sedikit meningkat dibandingkan periode Juni 2024 sebesar 4,22 persen.
Sementara kinerja Perusahaan Pergadaian menunjukkan peningkatan signifikan, dengan aset tumbuh sebesar 255,36 persen (YoY) menjadi Rp7,79 miliar dan pinjaman yang disalurkan tumbuh sebesar 177,84 persen (YoY) menjadi Rp1,43 miliar.
Peningkatan ini didorong oleh 2 perusahaan pergadaian yang memperoleh izin usaha di awal tahun 2025.
Total aset Lembaga Keuangan Mikro di wilayah kerja OJK Kediri pada posisi triwulan 2, 2025 meningkat sebesar 2,97 persen (YoY dari Quartal 2, 2024) menjadi sebesar Rp122,17 miliar. Penyaluran pembiayaan juga meningkat sebesar 7,13 persen (YoY dari quartal 2 2024) menjadi sebesar Rp80,59 miliar.
Ismirani juga menyinggung terkait layanan konsumen. Menurutnya, hingga 31 Agustus 2025, OJK Kediri telah menerima sebanyak 974 layanan konsumen yang terdiri dari 534 surat pengaduan dan 440 permintaan konsultasi dan/atau informasi, baik melalui tatap muka (walk in) maupun telepon.
"Selain itu permintaan SLIK yang diterima dan diselesaikan mencapai 6.519 layanan, mayoritas diajukan secara langsung (walk in),"tutup Ismirani Saputrii. (uji/van)










