Pertemuan rutin Hisko atau Himpunan Santri Konang di rumah Kepala Desa Bandung, Bangkalan.

Kepala Desa Bandung, Mudhar, yang menjadi tuan rumah acara, menyebut kegiatan ini sebagai penyegaran silaturahmi yang telah terjaga selama 40 tahun.
“Empat dekade bukan waktu sebentar. Kami terharu Hisko masih aktif. Ini bukti bahwa dakwah tidak hanya lewat mimbar, tapi juga lewat pertemuan hati,” ucapnya.
Ia juga menyoroti derasnya arus informasi di media sosial yang kerap mengaburkan nilai-nilai santri.
“Sekarang yang dianggap benar adalah yang viral, padahal nilai santri adalah keikhlasan, bukan popularitas,” tuturnya.
Sebagai refleksi, ia menyinggung kasus viral 'Kyai Mim vs Sahara' yang sempat memecah opini publik, sebagai pengingat pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi dunia digital.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, termasuk untuk para korban musibah di Pondok Pesantren Al-Khozainy Buduran. Meski sinyal ponsel lemah siang itu, koneksi hati para santri terasa jauh lebih kuat.
“Di tengah zaman ketika scroll menggantikan salam, para santri Konang bersepakat menjaga tradisi lama, menegur, menyapa, dan mendoakan,” kata KH. Aliwahdin. (uzi/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




