Seorang petani di Bojonegoro sedang memandangi padi yang baru ditanamnya.
BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com – Dominasi sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja utama di Kabupaten Bojonegoro mulai menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, persentase tenaga kerja di sektor ini menyusut dari 45,38 persen pada Agustus 2024 menjadi 44,63 persen pada Agustus 2025.
Meski angka 44,63 persen tersebut masih menempatkan pertanian sebagai sektor lapangan kerja terbesar di Bojonegoro, kecenderungan penurunan ini menjadi alarm bagi masa depan ketahanan pangan daerah.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro), Darsan, menilai bahwa pandangan subjektif generasi muda menjadi faktor penentu. Menurutnya, profesi petani masih dipandang sebelah mata dibandingkan pekerjaan formal lainnya.
“Sektor pertanian identik dengan lumpur yang kotor, tidak seperti kerja di kantoran. Apalagi biaya tanam tak sebanding dengan hasil panen,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Sehingga, jumlah tenaga kerja di pertanian akan terus turun, karena jarang diminati generasi muda. Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro harus mengatasi hal ini, misalnya memanfaatkan teknologi agar biaya petani lebih murah.
“Teknologi bisa menjadi daya tarik bagi generasi muda, untuk kembali ke dunia pertanian,” jelasnya.
Generasi milenial asal Kecamatan Sumberrejo, Dinana, mengakui lebih memilih berjualan di online di media sosial dibandingkan sektor pertanian. Sebab, di pertanian selain biaya mahal, hasilnya tidak menguntungkan.
“Saya tidak tertarik bidang pertanian, meski kedua orang tua merupakan petani,” terangnya.(jku)






