Kegiatan simulasi krisis yang digelar Permaya dan Perhumas di Hotel Alana Malang
"Karena bukan hanya teori saja tetapi juga dengan praktek, bagaimana bila krisis itu terjadi apa yang harus kita kerjakan, kita sudah dapat melakukan," ungkapnya.
Pakar komunikasi sekaligus dosen Universitas Brawijaya, Prof. Maulina Pia Wulandari, mengatakan dalam situasi krisis publik cenderung lebih mempercayai narasi dari sisi korban.

"Narasi yang dibangun oleh influencer lebih dipercaya daripada rilis resmi organisasi, screenshot dianggap lebih valid daripada pernyataan resmi organisasi," katanya.
Ia menegaskan manajemen krisis komunikasi perlu diantisipasi secara matang melalui simulasi semacam ini.
Selain itu, Maulina menilai pentingnya mengidentifikasi dan mendeteksi secara dini tanda-tanda munculnya krisis.
Indikator tersebut antara lain keluhan korban, influencer yang mulai menyebutkan isu, konten terkait yang beredar, media lokal yang meminta komentar, hingga grup komunitas atau WhatsApp warga yang ramai membahasnya.
"Ini jelas akan membuat rating turun drastis dalam waktu 24 hingga 48 jam," tandasnya. (adi/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




