Pelajar Terduga Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur Diamankan Polres Gresik

Pelajar Terduga Pelaku Persetubuhan Anak di Bawah Umur Diamankan Polres Gresik Barang bukti yang diamankan Polres Gresik

GRESIK,BANGSAONLINE.com - Polres Gresik menangkap GBA warga Surabaya terduga pelaku persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Kecamatan Driyorejo.

Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP Arya Widjaya, mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 27 Desember 2025 sekitar pukul 15.00 WIB di rumah pelaku di wilayah Kecamatan Driyorejo. Namun, kasus tersebut baru dilaporkan ke polisi pada 21 Januari 2026.

“Kami bergerak cepat setelah menerima laporan dari orang tua korban. Tersangka sudah kami amankan,” ujar Arya, Minggu (15/2/2026).

Ia menjelaskan, korban yang masih berusia 14 tahun awalnya diajak jalan-jalan oleh pelaku yang masih satu sekolah. Namun, korban kemudian dibawa ke rumah pelaku yang dalam kondisi sepi.

Di lokasi tersebut, pelaku mengajak korban melakukan persetubuhan. Korban sempat menolak, namun pelaku mengancam tidak akan mengantarkan korban pulang jika menolak.

“Modus tersangka memanfaatkan situasi rumah yang sepi serta kondisi hujan saat itu. Tersangka mengancam korban agar menuruti keinginannya,” jelas Arya.

Setelah kejadian, korban baru diantarkan pulang keesokan harinya, Minggu, 28 Desember 2025 pagi.

Pelaku kini diamankan dan sedang menjalani proses hukum lebih lanjut atas perbuatan yang dilakukan. 

Selain pelaku, tim Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik juga turut mengamankan sejumlah barang bukti, berupa pakaian yang digunakan oleh korban maupun pelaku pada saat kejadian. 

Dalam penanganan kasus, Polres Gresik tidak hanya berfokus pada proses hukum terhadap pelaku, tapi juga memastikan pemulihan kondisi korban. 

Dengan sejumlah langkah telah dilakukan, dari visum et repertum hingga pemeriksaan psikologis korban. 

"Kami pastikan korban mendapat pendampingan psikologis. Proses pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan humanis, agar korban tidak mengalami trauma tambahan,” ujar Arya.

Pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) jo Pasal 76 D Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak atau Pasal 473 ayat (2) huruf B Undang Undang nomor 1 tahun 2023 KUHP, dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara. (van)