Gubernur Jatim saat menerima kunjungan Gubernur Malut di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Foto: Devi Fitri Afriyanti
Gubernur Khofifah bersama Gubernur Sherly di Gedung Negara Grahadi Surabaya. (Ist)
Sementara itu, Sherly Tjoanda mengapresiasi sambutan dan dukungan Pemprov Jatim. Ia menyebut Khofifah sebagai mentor dan menegaskan kunjungannya kali ini membawa tim lengkap, termasuk dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), untuk belajar langsung dari Jatim.
“Kami ingin belajar, terutama dalam peningkatan SDM dan penguatan tata kelola pemerintahan berbasis elektronik. Indeks SPBE Jawa Timur sudah 4,7, sementara Maluku Utara masih 3,6. Ini menjadi salah satu fokus kami,” ungkap Sherly.
Selain itu, ia mengakui sebagian besar kebutuhan bahan pokok dan bahan baku pangan Malut masih dipasok dari Jatim. Ketidakseimbangan arus logistik turut berkontribusi terhadap tingginya biaya distribusi dan inflasi di daerahnya.
“Oleh karena itu, kami mencari solusi agar supply chain lebih efisien. Jika kapal berangkat penuh dan kembali juga penuh, biaya logistik bisa ditekan dan harga jual di Maluku Utara dapat lebih terjangkau,” jelasnya.
Ke depan, kedua provinsi sepakat memperluas kolaborasi tidak hanya pada sektor perdagangan dan logistik, tetapi juga pertanian, peningkatan kapasitas aparatur, serta transformasi digital pemerintahan. Kerja sama ini diharapkan menjadi model sinergi antarwilayah dalam memperkuat ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (dev/msn)
Gubernur Jatim saat menerima kunjungan Gubernur Malut di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Foto: Devi Fitri Afriyanti
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




