Saat Ramadhan Membongkar Ilusi Kekuasaan Manusia

Saat Ramadhan Membongkar Ilusi Kekuasaan Manusia A. Faiz Yunus, M.Si.

Iman tidak hanya diuji ketika seseorang berada dalam penderitaan, tetapi justru sering kali lebih berat diuji ketika ia berada dalam dan kemuliaan.

Puasa dan Pendidikan Kerendahan Hati

Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan spiritual untuk membongkar ilusi manusia tentang kekuatan dan kepemilikan.

Di bulan ini, manusia yang paling berkuasa sekalipun harus merasakan lapar yang sama dengan orang yang lemah. Orang yang paling kaya pun harus menahan diri sebagaimana mereka yang tidak memiliki apa-apa.

Ramadhan seolah berkata kepada manusia:

"Apa pun yang kau banggakan di dunia ini sebenarnya rapuh."

Jabatan bisa hilang, bisa berganti tangan, popularitas bisa memudar, bahkan kekuatan tubuh yang selama ini dibanggakan pun suatu saat akan melemah.

Itulah sebabnya Al-Qur'an menegaskan bahwa pergiliran keadaan memiliki tujuan yang dalam agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan ketika berjaya dan tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika terjatuh.

Belajar dari Dua Keadaan

Dalam perspektif iman, seseorang justru beruntung jika pernah merasakan dua keadaan sekaligus, yakni pernah berada di atas dan pernah berada di bawah. Dari situ manusia belajar memahami keterbatasan dirinya dan menyadari bahwa ia hanyalah hamba yang sedang diuji.

Ramadhan datang setiap tahun untuk menghidupkan kesadaran itu kembali. Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah panggung untuk mempertahankan kejayaan dan popularitas yang sering dianggap sebagai power, melainkan ruang ujian untuk menegakkan iman dan keadilan.

Pada akhirnya, yang akan ditanya bukanlah seberapa tinggi seseorang pernah berkuasa, seberapa luas popularitasnya, dan seberapa banyak jabatannya, tetapi bagaimana ia menggunakan itu semua. Bukan seberapa lama ia menikmati kejayaan, tetapi apakah ia tetap adil dan rendah hati ketika kejayaan itu berada di tangannya.

Sebab Allah telah menutup ayat tersebut dengan peringatan yang tegas:

وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِینَ ..

"...Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."

Ramadhan, dengan segala kesederhanaan latihannya, sesungguhnya sedang mendidik manusia untuk memahami satu hal yang paling mendasar, bahwa semua yang datang akan pergi, dan semua yang pernah kita pegang pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Wallahu a'lam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Semua Penonton Bioskop Disalami, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (18)':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO