Delegasi Timor Leste yang berkunjung ke Unair. foto: yuli iksanti/BANGSAONLINE
Terkait dengan hal itu, Manetelu menanggapi positif perbincangan tersebut. Manetelu mengatakan bahwa dirinya akan berkoordinasi dengan kementerian-kementerian lain Timor Leste untuk menindaklanjuti peluang kerjasama tersebut.
“Saya melihat UNAIR welcome dengan Timor Leste. Saya akan melakukan koordinasi dengan kementerian-kementerian lain, terutama dengan hal-hal yang bisa dikembangkan di masa depan, termasuk dengan universitas di Timor Leste. Dari paparan tadi peluangnya cukup bagus,” tutur Manetelu.
Sebelumnya, setelah menandatangani MoU pada tahun 2013, peneliti Lembaga Penyakit Tropik UNAIR diminta untuk melakukan analisis identifikasi DNA pada veteran Timor Leste beberapa dekade silam. Walaupun ada sekitar 300.000 orang yang gugur dalam konflik, UNAIR diminta untuk menganalisis DNA belasan sampel veteran.
“Yang dikirim ke Surabaya ada belasan orang. Sebenarnya masih banyak karena pada saat perjuangan ada sekitar 300.000 orang yang meninggal. Memang tidak semuanya akan diidentifikasi. Dari sintesis pertama, ada tiga orang yang cocok. Dari sintesis kedua, kami masih menunggu. Kita mencoba mencari referensi sampel agar keluarga itu bisa puas dengan hasil yang kita berikan,” terang Manetelu.
Pihaknya mengatakan bahwa kerjasama dengan UNAIR terkait identifikasi DNA pejuang Timor Leste adalah permasalahan etika dan moral. ‘‘Kami merasa bahwa UNAIR sudah membantu dengan baik. Hal ini dikarenakan persaudaraan antara bangsa Indonesia dan Timor Leste. Pemerintah yang dulu telah melakukan kerjasama dengan UNAIR untuk melakukan tes DNA,” tutur Manetelu. (yul/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




