Nanas belum dikupas yang disajikan untuk menu MBG di sebuah sekolah di Lawang Malang. Foto: ist
MALANG, BANGSAONLINE.com – Ternyata makin banyak temuan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa-siswi yang tak layak tapi dipaksakan. Salah satunya di sebuah sekolah SD di Lawang Malang Jawa Timur. Menu MBG di sekolah tersebut siswa-siswi hanya dapat satu buah nanas dan satu kacang bawang kecil.
“Ya hanya dapat satu buah nanas dan satu saset kacang bawang yang harganya Rp 1.000-an,” ujar salah satu orang tua murid di sekolah tersebut yang enggan disebut namanya, Rabu (25/3/2026).
Biasanya kacang bawang itu dijual di warung-warung kecil.
“Yang biasanya digantung-gantung,” ujarnya.
Ia mengaku tak mengerti kenapa hanya dikasih nanas dan kacang bawang.
“Katanya karena bulan puasa, maka menunya buah nanas yang belum dikupas,” ujarnya.
Kasus menu MBG tak layak dan tak sesuai standar bukan hanya kali ini saja terjadi di Jawa Timur. Sebelumnya juga terjadi di Gresik dan Pamekasan Madura.
Seperti diberitakan Kompas, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumdes Sejahtera Pamekasan menyalurkannya menu MBG kelapa muda utuh tanpa dikupas. Setiap siswa mendapatkan 1 butir kelapa untuk menu MBG dua hari pada Kamis, 12 Februari 2026.
Selain satu butir kelapa muda, 2.030 siswa juga mendapatkan dua potong roti, dua butir telur ayam mentah, dan susu. Padahal, menurut Hariyanto Rahmansyah Tri Arif, Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) di Pamekasan, aturan penyaluran menu MBG, makanan atau minuman harus siap santap.
Kasus serupa juga terjadi di Gresik. Seperti dilansir CNN, ada sembilan SPPG yang menyajikan menu kelapa utuh sebagai bagian dari menu MBG. Akibatnya Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas terhadap sembilan SPPG di Kabupaten Gresik tersebut. Kesembilan SPPG tersebut kini resmi di-suspend atau dihentikan sementara operasionalnya.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyayangkan keputusan para pengelola SPPG tersebut yang dinilai mengabaikan polemik serupa yang sebelumnya sudah menjadi perhatian publik.
"Pemberian kelapa utuh sebelumnya sudah menjadi perhatian publik di beberapa daerah. Seharusnya hal itu menjadi pembelajaran bagi seluruh pengelola SPPG agar lebih berhati-hati dalam menentukan menu yang diberikan kepada penerima manfaat," ujar Nanik di Jakarta, Minggu (15/3) dalam keterangan resminya.
Nanik secara tegas menolak alasan oleh kesembilan SPPG yang menyatakan bahwa menu tersebut diberikan atas permintaan penerima manfaat tidak dapat dijadikan pembenaran. Setiap SPPG, kata Nanik, tetap wajib mengikuti standar menu dan pedoman operasional yang telah ditetapkan dalam program MBG.
"Seluruh SPPG tetap harus mengikuti pedoman menu dan standar pelayanan yang sudah ditetapkan. Karena itu, sembilan SPPG di Gresik yang memberikan kelapa utuh saat ini kami hentikan sementara operasionalnya untuk proses evaluasi," tegasnya sembari mengatakan bahwa ia minta agar kepala SPPG-nya juga ditindak tegas.
Seperti diberitakan, anggaran MBG sangat besar. Per tahun Rp 335 triliun. Tapi pelaksanaan di lapangan banyak yang tidak sesuai harapan.

























