Wabup Pasuruan, M. Shobih Asrori, mendampingin Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, meninjau banjir dan selter kebencanaan di berbagai titik. (Ist)
PASURUAN, BANGSAONLINE.com – Wakil Bupati Pasuruan, M. Shobih Asrori, mengatakan banjir yang masih menggenang sejumlah wilayah di Pasuruan kini tak lagi sekedar persoalan musiman. Saat ini, sekitar 150 hektare lahan pertanian terancam gagal panen.
Hal tersebut ia sampaikan saat menerima kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, Jumat (27/3/2026).
“Sekitar 150 hektare lahan pertanian mengajukan bantuan bibit. Hari ini akan ditentukan apakah tanaman tersebut masih bisa diselamatkan atau dinyatakan busuk,” kata Shobih.
Ia menegaskan, banjir yang melanda Pasuruan kali ini berbeda dari sebelumnya. Jika pada pekan-pekan lalu air cepat surut, kini genangan bertahan lebih lama. Salah satu penyebabnya adalah elevasi tanah warga yang hampir sejajar dengan permukaan sungai, sehingga membuat pompa air tak efektif.
Shobih berharap, kehadiran BNPB dapat mendorong solusi jangka panjang yang terstruktur. Karena ia menilai penanganan banjir di Pasuruan tidak bisa dilakukan secara instan.
“Banjir ini tidak bisa diatasi secara cepat dan spontan. Kami berharap, setelah peninjauan ini ada agenda jangka panjang dari BNPB untuk penanganan banjir di Kabupaten Pasuruan,” jelasnya.
Dia juga menyinggung upaya normalisasi sungai yang telah dilakukan bersama Pemprov Jatim. Meski sempat menunjukkan hasil, kondisi geografis yang kompleks membuat banjir tetap berulang.
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto tak menampik kompleksitas persoalan tersebut. Ia memaparkan, sepanjang 2025 tercatat 4.727 kejadian bencana di Indonesia. angka yang setara dengan 30 hingga 40 bencana per hari. Sementara hingga Maret 2026, sudah terjadi 618 bencana, dan Jatim menjadi salah satu wilayah terdampak signifikan.
“Hampir seluruh provinsi mengalami bencana hidrometeorologi—banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem. Bahkan di saat Pasuruan banjir, wilayah lain seperti Tuban sudah mengalami kekeringan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan kondisi ini mencerminkan tantangan geografis Indonesia yang kompleks. Dalam satu waktu, bencana berbeda bisa terjadi di wilayah yang berdekatan.
Menurut Suharyanto, salah satu sumber banjir di Pasuruan berkaitan dengan kondisi sungai yang membutuhkan normalisasi lebih lanjut dan sebagian di antaranya berada dalam kewenangan pemerintah pusat.
Suharyanto juga membeberkan akan mengoordinasikan langkah penanganan lintas sektor, termasuk dengan kementerian dan lembaga terkait.
“Tentu kalau menjadi kewenangan kami, akan kami bantu. Tapi jika itu kewenangan pihak lain, akan kami dorong agar segera ditangani,” jelasnya
Selain penanganan jangka panjang, BNPB juga membuka peluang bantuan darurat, mulai dari logistik hingga sarana operasional. Namun, Suharyanto menekankan pentingnya kesiapsiagaan daerah.
Ia mengapresiasi langkah Pemkab Pasuruan yang telah membangun selter kebencanaan sebagai bagian dari mitigasi.
“Kabupaten Pasuruan mungkin bukan daerah dengan tingkat bencana tertinggi, tapi kesiapsiagaannya patut diapresiasi,” tegas Suharyanto dalam menutup sambutanya. (maf/par)

























