Stop Percaya 'Kesempatan Tak Datang Dua Kali, Pola Pikir Ini Bunuh Generasi Muda

Stop Percaya A. Faiz Yunus, M.Si. Foto: dok. pribadi

Oleh: A. Faiz Yunus, M.Si

Tekanan sosial, standar keberhasilan instan, dan lemahnya ketahanan iman membuat sebagian rapuh menghadapi kegagalan.

Ungkapan "kesempatan tidak datang dua kali" sering digaungkan sebagai motivasi. Namun dalam realitas hari ini, ia justru berubah menjadi tekanan terutama bagi yang sedang berjuang menemukan arah hidupnya.

Di tengah kompetisi yang semakin ketat, standar keberhasilan yang serba instan, serta derasnya arus media sosial, banyak anak muda merasa hidup tidak memberi ruang untuk gagal. Sekali jatuh, seolah semuanya berakhir. Sekali tertinggal, seakan tidak ada lagi kesempatan untuk bangkit.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Ia telah menjadi realitas sosial yang mengkhawatirkan. Data dari Universitas Gajah Mada menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia mencapai sekitar 1.000 kasus setiap tahun, bahkan meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Angka ini diyakini hanya permukaan, karena masih banyak kasus yang tidak terlaporkan akibat stigma masyarakat.

Kasus tragis yang terjadi di kawasan Cangar, Kota Batu, menjadi salah satu contoh nyata. Seorang pemuda yang dari luar tampak baik-baik saja, ternyata menyimpan beban yang tidak mampu ia kelola. Peristiwa ini bukan untuk dihakimi, melainkan untuk direnungi betapa rapuhnya sebagian hari ini.

Dalam sebuah hikmah yang dinukil dalam Kitab Fathul Majid, Allah seakan mengingatkan:

فقَالَ تَعَالَى : أَنَا الشَّافِي وَأَنَا الْمُعَافِي وَأَنَا الضَّارُّ وَأَنَا النَّافِعُ ، قَصَدْتَنِي فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى فَأَزَلْتُ مَرَضَكَ ، وَالْآنَ قَصَدْتَ الْحَشِيشَةَ وَمَا قَصَدْتَنِي

"Aku-lah penyembuh. Aku-lah pemberi kebaikan. Aku-lah yang mendatangkan mudharat. Aku pula yang mendatangkan kemaslahatan. Pada sakitmu yang pertama, kau mendatangi-Ku, maka Aku sembuhkan penyakitmu. Namun kali ini, kau mendatangi rumput itu, bukan kepada-Ku."

Hikmah ini menegaskan bahwa persoalan utama manusia sering kali bukan pada sempitnya jalan, melainkan pada arah ketergantungan. Ketika hati terlalu bergantung pada sebab terhadap manusia, relasi, atau pencapaian dunia maka ketika sebab itu runtuh, hidup pun terasa runtuh.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO