A. Faiz Yunus, M.Si. Foto: dok. pribadi
Kita hidup di zaman yang paradoks. Peluang terbuka luas, tetapi tekanan untuk terlihat berhasil jauh lebih besar daripada kemampuan untuk bertahan dalam kegagalan. Media sosial memperkuat ilusi bahwa semua orang harus sukses cepat, tanpa jeda, tanpa jatuh.
Akibatnya, kegagalan tidak lagi dipahami sebagai proses, melainkan sebagai aib. Lingkungan pun sering kali tidak memberi ruang aman untuk gagal. Alih-alih dirangkul, mereka yang terjatuh justru dibandingkan dan dihakimi. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika sebagian anak muda memilih memendam luka, hingga akhirnya runtuh dalam diam.
Padahal dalam perspektif iman, kegagalan bukanlah tanda bahwa hidup telah selesai. Ia adalah bagian dari proses yang sedang diarahkan oleh Allah. Bahkan, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
"Sesungguhnya bersamaan kesulitan ada kemudahan"
Kesempatan sejatinya bukan peristiwa yang datang sekali lalu hilang, melainkan karunia Allah yang dapat dihadirkan kembali bagi hamba yang terus kembali kepada-Nya. Namun cara pandang ini mulai terkikis oleh budaya instan yang menuntut hasil tanpa proses.
Di sinilah letak krisis yang sesungguhnya, generasi muda didorong untuk kuat bersaing, tetapi tidak dibekali cara untuk tetap kuat saat gagal.
Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya teknis. Literasi kesehatan mental memang penting untuk diperkuat, sebagaimana disuarakan para akademisi. Namun lebih dari itu, penguatan iman dan cara pandang hidup juga menjadi hal yang tidak kalah mendesak. Ikhtiar harus berjalan, tetapi ia harus disertai dengan tawakal. Usaha harus maksimal, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.
Narasi "tidak ada kesempatan kedua" perlu diluruskan. Sebab dalam banyak keadaan, bukan kesempatan yang hilang, tetapi harapan yang lebih dulu padam. Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat berhasil, melainkan siapa yang paling tepat dalam bersandar. Selama seseorang masih mau kembali kepada Allah, maka tidak ada kegagalan yang benar-benar menutup jalan.
Fenomena yang terjadi hari ini seharusnya menjadi alarm bersama, bahwa yang sedang diuji bukan hanya kemampuan generasi muda dalam bersaing, tetapi juga keteguhan mereka dalam bertahan. Dan mungkin, yang paling mendesak untuk dibangun kembali bukan sekadar peluang baru, melainkan hati yang yakin bahwa dalam kuasa Allah selalu ada jalan, bahkan setelah kegagalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




