Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. dan para nara sumber yang lain dalam Seminar Nasional bertajuk “Disrupsi Ekonomi Akibat Perang Global: Perspektif Hukum Ekonomi Syariah terhadap Perekonomian Indonesia”, di Auditorium Lantai 3 Fakultas Syariah IAIN Gorontalo, Rabu 29 April 2026 . Foto: bangsaonline
Kiai Asep juga membagikan pengalaman panjangnya dalam membangun Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Ia mengungkapkan, dari sebuah pondok kecil, lembaga pendidikan tersebut berkembang pesat hingga memiliki puluhan ribu santri. Para santrinya dikenal berprestasi dan mampu menembus berbagai kampus ternama, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Dalam pemaparannya, Kiai Asep menyampaikan capaian besar lembaga pendidikan yang ia rintis. Sejak membangun perguruan tinggi pada tahun 2015, kini lembaga tersebut telah memiliki program S1, S2 dan S3, serta tiga jurnal bereputasi Scopus.
“Ekonomi yang kuat harus dimulai dari manusia yang kuat secara spiritual, berilmu, disiplin dan memiliki keberanian untuk membangun,” demikian pesan utama yang tergambar dari materi Kiai Asep.
Materi kedua disampaikan oleh Gus Abdullah Aniq Nawawi. Ia menegaskan bahwa konsep amar ma’ruf dan nahi munkar memiliki cakupan luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Menurutnya, dakwah Islam juga harus mampu menjawab persoalan kesejahteraan masyarakat.
Gus Aniq juga menyinggung identitas Gorontalo sebagai Serambi Madinah. Menurut dia, sebutan tersebut perlu diwujudkan dalam tata kehidupan sosial, ekonomi dan keagamaan yang mencerminkan nilai-nilai Nabi Muhammad SAW saat membangun Madinah. “Serambi Madinah perlu diterjemahkan dalam gerakan nyata. Masyarakatnya harus kuat secara moral, sosial, dan ekonomi,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Sofyan AP. Kau, M.Ag. dalam materi ketiga mengulas isu Syi’ah yang kerap dikaitkan dengan Iran. Ia menyoroti bagaimana konflik global, termasuk ketegangan Amerika Serikat dan Iran, sering menyeret sentimen keagamaan ke dalam ruang publik.
Menurut dia, masyarakat perlu membaca isu tersebut secara jernih, akademik dan proporsional.
Prof. Sofyan menegaskan bahwa kajian tentang Syi’ah harus ditempatkan dalam ruang keilmuan yang objektif. Ia sendiri menyatakan bukan penganut Syi’ah, namun memiliki perhatian akademik terhadap literatur dan dinamika pemikiran Syi’ah.
Seminar nasional ini menjadi penting untuk memahami keterkaitan antara perang global, gejolak ekonomi, hukum ekonomi syariah, serta dinamika keislaman kontemporer. Dalam kegiatan ini, Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo melaksanakan MOU dengan KPAI , MOU KPAI dengan Rektor UNU dan MOU Fakultas Syariah dengan Ponpes Salafiyyah Safiiyyah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




