SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Puluhan calon pendamping lokal desa (PLD) yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Mahasiswa Pemuda Peduli Madura (AM2P2M) mengadu ke Komisi A DPRD Jawa Timur. Mereka mengadukan proses rekrutmen PLD di Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan tidak transparan dan amburadul.
Bahkan PLD yang lolos dan diterima ternyata sebagian besar memiliki afiliasi dengan parpol dan ormas tertentu. Karena itu, AM2P2M mendesak supaya proses rekrutmen PLD dianulir. Hal itu diungkapkan Koordinator AM2P2M, Syamsul Arifin.
"Kami mendesak supaya rekrutmen PLD di Madura khususnya di Pamekasan dianulir karena rekrutmennya tidak transparan dan amburadul," tegas Syamsul saat hearing dengan Komisi A DPRD Jatim dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Jatim, Rabu (16/12).
Di antara kejanggalan yang ditemukan, kata Syamsul adalah jumlah pendaftar calon PDL di Pamekasan tercatat 400 orang, namun yang diterima justru membludak menjadi 451 orang. "Padahal dari 400 yang mendaftar itu yang dinyatakan lulus hanya 200 orang. Jadi 251 orang lainnya itu bisa dikatakan siluman," tandasnya.
Selain itu, lanjut Syamsul saat tes wawancara calon PLD yang hanya diam justru diluluskan. Sedangkan yang menjawab malah tidak diluluskan. Bahkan AM2P2M juga menemukan kasus rekrutmen calon pendamping desa (PD) yang tidak lolos tes administrasi (tulis) justru diluluskan saat tes wawancara.
"Banyak kejanggalan yang kami temukan, karena itu kami minta Bapemas Jatim transparan, kenapa calon PLD yang tak lolos tes tulis bisa diloloskan tes wawancara," ungkap pria bertubuh subur ini.
Masih di tempat yang sama, Hadi Sulistyo wakil Bapemas Jatim menjelaskan, rekrutmen calon pendamping desa (PD) pendaftarannya melalui dua jalur yakni sistem online dan manual.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




