Terompet juga beredar di Jakarta. foto: merdeka.com
“Dan setelah kita telusuri terompet itu didapatkan dari seorang bernama WS, warga Desa Mronjo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar. Kami langsung cek dan WS langsung kami bawa ke kantor untuk diperiksa dengan status saksi,” kata Muji kepada wartawan.
Ditambahkan Muji, berdasarkan pengakuan WS dia mendapatkan bahan terompet tersebut dari daerah Wonogiri.
Menurut Muji, WS sendiri mengaku tidak ada unsur kesengajaan membeli bahan terompet yang bersampul Alquran itu meski dirinya sempat ragu-ragu jika dikemudian hari akan menjadi masalah.
“Namun karena agen besar di Wonogiri itu mengatakan tidak apa-apa maka WS dan istrinya akhirnya tetap membeli bahan terompet berbahan sampul Alquran. Dan kami sudah berkoordinasi dengan Polres Wonogiri dan si pemilik agen itu sekarang sudah diperiksa. Kapolres Wonogiri AKBP Wendro sudah mengatakan menindaklanjuti persoalan yang ada di Blitar ini,” jelas Muji.
Sementara Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta, Djan Faridz mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk ikut menyelesaikan kasus peredaran terompet yang terbuat dari sampul Alquran.
Ia mengatakan, Presiden Jokowi dapat memerintahkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan untuk mengatasi masalah ini dengan serius.
"Jangan sampai masalah ini diabaikan karena ada gejala yang sangat tidak baik," ujarnya, Rabu (30/12).
Djan melihat ada upaya membenturkan Jokowi dengan umat Islam di balik kasus ini. Sebelum beredarnya terompet kontroversial ini, ada oknum yang mencoba mengadu domba partai Islam dan membenturkan Jokowi dengan partai Islam tersebut.
Namun saat upaya itu tidak mempan, oknum tersebut menggagas pebuatan terompet yang berasal dari sampul Alquran. Bukan tidak mungkin ada upaya-upaya lain yang mencoba mengkerdilkan umat Islam.
"Kalau Pak Jokowi tidak bertindak tegas, kami khawatir akan menyebabkan gerakan Islam yang nanti melawan beliau. Ini yang kami tidak mau," jelasnya.
Djan ingin melihat pemerintahan berjalan stabil, kuat dan didukung umat Islam yang jumlahnya mencapai 85 persen dari total seluruh penduduk Indonesia. Djan merasa kasihan apabila Jokowi dibenturkan dengan jumlah umat Islam yang begitu besar ini.
Sementara Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyebut bahwa polisi tak tinggal diam dan masih menyelidiki perkara tersebut.
"Itu sedang penyelidikan, panjang itu ceritanya. Itu dari sana (Jateng) kemudian Wonogiri, Solo, ke Kudus dan lainnya sehingga masih penyelidikan," ujar Kapolri kepada wartawan.
"Motif ya belum sampai, belum ketemu orang yang buat," sambung Badrodin. (mer/rol/tic/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




