"Saya sendiri merasa tidak masuk akal kalau kemiskinan di Gresik masih di atas 13 persen," cetusnya.
Bagian Sosial sendiri, lanjut Rudi, telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kemiskinan di Kabupaten Gresik. Dari upaya itu bisa diketahui angka kemiskinan di Gresik yang terus turun. Sebagai rujukan adalah, program penerimaan bantuan Jamkesnas (Jaminan Kesehatan Nasional). Dari jumlah 394.293 orang pada tahun 2015, menurun hingga tinggal 335.129 orang.
Kemudian, Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) awalnya 47.557 orang tahun 2015 turun tinggal 40.480 orang. "Indikator-indikator ini yang kami jadikan rujukan kalau angka kemiskinan di Gresik terus menurun," terangnya.
Rudi menambahkan, bahwa salah satu indikator mengapa Gresik angka kemiskinannya cukup tinggi versi BPS, karena tingginya disparitas (kesenjangan).
Sebagai contoh, di wilayah GKB (Gresik Kota Baru), hanya orang-orang mampu yang belanja di sana, sedangkan orang miskin tidak mampu, seperti belanja makanan.
Kemudian, di wilayah pertambakan masih banyak orang dianggap miskin karena buang air besarnya di tambak. "Padahal menurut kami orang petambak itu rata-rata kaya," pungkasnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




