Buruh linting rokok klobot ikut resah seiring dengan rencana kenaikkan harga rokok.
Disampaikan oleh Sasmito, kenaikan harga rokok yang selangit, akan membuat konsumsi rokok produksi pabrik akan merosot secara drastis. Katanya, “Jika benar naik jadi Rp 50 ribu, itu artinya naik sekitar 150-200 persen (dari harga sekarang). Tentu konsumsi rokok pabrik akan turun signifikan.”
Sasmito juga menjelaskan, para penikmat rokok akan terbagi dua. Mereka yang mampu, akan tetap mengonsumsi rokok buatan pabrik, meski tidak sebanyak sebelum harga naik. Sementara, masyarakat pedesaan, bisa beralih pada rokok linting.
“Penduduk miskin pencandu rokok akan membuat sendiri rokoknya, biasanya rokok linting atau rokok klobot. Tapi buat pencandu rokok kaya tetap akan beli rokok, walaupun irit konsumsinya,” paparnya.
BPS sendiri belum melakukan survei khusus terkait konsumsi rokok, jika harganya benar-benar dinaikkan hingga Rp 50 ribu.
Sementara itu, sejumlah petani tembakau bereaksi dengan rencana kenaikkan harga rokok Rp 50 ribu per bungkus. Saat ini harga tembakau di tingkat petani terpuruk, yakni Rp 1.000 per kg. Petani tembakau di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah misalnya. Mereka meminta, jika benar-benar harga rokok naik, maka harga tembakau juga harus naik.
"Kalau pemerintah mau menaikkan harga rokok per bungkusnya sampai Rp 50 ribu, bantu dulu stabilkan dan menaikkan harga tembakau yang saat ini hancur," ucap Slamet (50 tahun), petani di Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Jateng.
"Terus terang saya menilai kalau pemerintah menaikkan harga rokok hanya sebagai upaya menaikkan pendapatan negara. Dan juga hanya menguntungkan perusahaan rokok. Sementara kenaikan rokok itu kan tidak membawa dampak positif bagi petani," sambung dia.
Hal serupa diungkap petani tembaku di Malang, Jawa Timur yang berharap pemerintah bersikap tegas dan mengkaji betul jika harga rokok akan dinaikkan.
Salah satu sentra tanaman tembakau di Kabupaten Malang berada di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung. Di wilayah ini, lebih dari 3 hektare lahan milik warga setempat, menjadi sentra tanaman tembakau sejak lama. Menanam tembaku, jadi pekerjaan utama warga desa di tengah harga jual tembakau yang selalu tidak menentu.
“Kalau harga jualnya saat ini hanya Rp.70 ribu sampai Rp.80 ribu per kilogramnya. Di tengah kabar kenaikan harga rokok saat ini, kami belum tahu berapa nanti harga jualnya,” ungkap Rokip, salah seorang petani.
Kata dia, pemerintah harus tegas dan mengkaji lagi jika memang rencana kenaikan harga rokok akan diberlakukan. “Kami menggantungkan hidup dari tanaman tembakau sejak lama. Sudah nanamnya sulit, harga jual terkadang tidak menguntungkan kami. Selalu terdampak,” papar Rokip.(jat/mer/inc/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




