Wiwik mengaku untuk memulai usaha membuat kampung sentra olahan herbal seperti saat ini sangat susah. “Mengordinir ibu-ibu disini sangat susah. Awalnya saya kasih resep kepada ibu-ibu kelompok tani, masih saja ada yang tidak mau. Ada juga yang bilang saya bohong tentang resep yang saya berikan. Segala macam lika-liku sudah saya rasakan. Waktu itu ada yang nitip kacang hijau di Siola tapi rasanya anyep. Saya berikan resep saya, dia tidak mau. Lalu dia saya ajak praktek dirumah saya, dia tetap tidak mau. Tetapi, saya tetap mencoba sendiri dirumah dan hasilnya saya kirimkan ke tetangga saya itu. Akhirnya dia mengucapkan terimakasih,” keluh dia.
Wiwik hanya ingin ibu-ibu kampung Genteng Candirejo produktif dan memanfaatkan kemampuan mereka dengan membuat produk-produk yang bisa dinikmati banyak orang serta memasarkannya. Dia selalu mendorong anggotanya dengan mengajak mereka memasarkan produknya di sentra-sentra UKM yang disediakan Pemkot Surabaya. Selain di tempat Sentra Olahan Herbal yang ada di depan gang RT 02/RW 08, ibu-ibu yang membuat olahan herbal menitipkan produk olahan mereka di toko-toko langganan serta di Sentra UKM. Wiwik sendiri menitipkan di Sentra UKM ITC, Merr, Kota Madya, Dikbud, dan ada langganan-langganan lain yang mengambil sendiri ke rumahnya.
Saat ini sudah ada 15 orang yang membuat produk-produk olahan herbal, mulai dari sari kedelai, sari jagung, beras kencur, manisan belimbing wuluh, dan lain-lain. Tetapi, masih ada 4 orang yang sudah mendapat PIRT termasuk Wiwik. Untuk 11 orang lain masih dalam proses penyelesaian.
Untuk produk Wiwik sendiri, dia memberi nama Kendi 42. Kenapa Kendi? Karena Wiwik ingin produsen yang meminum hasil olahannya merasa segar seperti minum dari kendi. Sedangkan 42 adalah nomor rumahnya. Produk-produk hasil olahan Wiwik antara lain beras kencur kapulogo, kunyit asem, sinom luntas (kalau ada saudara yang datang dari desa dan bawa luntas) karena disini susah mecari luntas, temulawak bunga polo, tak lupa ikon kampung sentra olahan herbal, yaitu belimbing wuluh. Wiwik membuat berbagai macam varian produk dari belimbing wuluh, seperti manisan, sirup, minuman, yang terbaru adalah selai belimbing wuluh.
Untuk membuat olahan, para ibu mendapatkan bahannya dari pasar. Tetapi untuk belimbing wuluh dan sinom, sudah ada pohon di sekitar rumah yang bisa dimanfaatkan. “Jika musim berbuah belimbing wuluh, biasanya saya mengambil dari 2 pohon sudah cukup untuk membuat manisan dan lain-lain. Dalam sekali ambil biasanya 30 kg,” aku Wiwik.
Omzet Wiwik dalam sebulan mencapai sekitar Rp. 3 jt lebih. Dia mengaku sangat terbantu dengan usaha ini. Karena sebagai single mother, dia bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan berkat hobinya tersebut. (mega melati/UTM)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




