Para pekerja di sentra produksi kerupuk lembang yang ada di Kecamatan Bangilan saat hendak menjemur kerupuk. foto: AHMAD/ BANGSAONLINE
Tono mengaku bisa menghabiskan hingga 350 kilogram tepung tapioka, 50 kilogram tepung beras, 12 kilogran garam grosok, dan 3 bungkus ukuran besar penyedap rasa dalam sekali produksi.
Tono mengaku dirinya merupakan merupakan generasi ke-1 penerus usaha kerupuk lembang ini. Usaha ini sudah dirintis oleh keluarga Tono sejak 30 tahun lalu.
Saat ini, Tono sudah mempunyai 25 karyawan, mulai dari yang bertugas sebagai penggiling, pengadonan, babangi, penjemuran, dan penggorengan.
Salah satu pekerja, Hendrik, mengatakan bahwa dirinya sudah 2 tahun bekerja sebagai penggiling adonan kerupuk lembang di keluarga Tono. Hendrik mengaku cukup enjoy bekerja dengan majikannya tersebut.
"Hasil honor harian sih sama saja mas jika dibanding kerja di luar kota, bedanya kalau di kota besar hiburanya lebih banyak," tandasnya.
Kerupuk hasil produksi Tono ini dipasarkan di pasar-pasar tradisional Tuban. "Wah, ini lagi kulakan mas, untuk dipasarkan lagi di pasar Sembung, Parengan," tutur Wartini, salah satu pedagang kerupuk saat berada di sentra produksi kerupuk lembang milik Tono. (ahm/wan/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




