Haul Gus Dur Ke-7 dan 16 Tahun Riyanto, Lintas Agama Doa Bersama Serta Refleksi

Haul Gus Dur Ke-7 dan 16 Tahun Riyanto, Lintas Agama Doa Bersama Serta Refleksi Doa bersama lintas agama dalam rangka haul ke-7 Gus Dur dan Riyanto di Aula Desa Mojongapit, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jumat (30/12). foto: RONY S/ BANGSAONLINE

Setelah disetujui di Ponpes Tebuireng, muncul lagi perbedaan pendapat di kalangan keluarga tentang pemilihan lokasi. Apakah di selatannya makam KH Hasyim Asy’ari (kakek ), atau di utaranya. Untuk diletakkan di sebelah utara, harus tokoh minimal yang sejajar dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU).

“Atas persejuan keluarga besar, dinilai layak untuk berada di uatara Mbah Hasyim. Meskipun kaki berdekatan dengan kepala Mbah Hasyim. Itu karena kehebatan yang banyak meninggalkan prinsip-prinsip kemanusiaan kepada kita anak bangsa,” jelas Gus Zaki.

Ia pun mengajak untuk tetap menjaga silaturrahim antar sesama seperti yang diajarkan . “Tidak penting siapa kita, agama, suku, ras kita, yang terpenting kita bersilaturrahim untuk menjaga persaudaraan, persatuan di negeri ini,” tandasnya.

Orasi kebangsaan tentang teladan dan Riyanto juga dipaparkan Gatot Sugeng Santoso, Ketua INTI Jawa Timur dalam kesempatan tersebut. Baginya, Riyanto yang sudah menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Misa Natal layak disebut pahlawan.

“Riyanto bagi kami adalah pahlawan. Dia muslim yang menyelamamatkan nyawa saudara-saudaranya non-muslim saat beribadah, pejuang yang hebat,” ujar pria bermata sipit ini diatas panggung.

Sugeng juga menceritakan kisahnya bisa masuk istana hingga empat kali hanya saat menjadi presiden. “Yang paling penting adalah jiwa humanis . Suku kami minoritas, agama kami minoritas, tapi bagi tidak ada minoritas. Semuanya sama untuk mendapatkan hak apapun,” beber Sugeng.

Selain doa bersama dan refleksi, beberapa puisi dibacakan saat eplaksanaan acara tersebut. Tak ketinggalan sepuluh mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berkuliah di Jombang ikut menampilkan sebuah tarian khas daerah tersebut.

Sebelum acara ditutup, seluruh tokoh perwakilan agama memimpin doa bersama diatas apnggung. Sembari memgang lilin yang menyala, seluruh hadirin diminta ikut berdoa bersama. Suasana khidmat ditengah gelap yang terpancar sinar lilin terasa dalam ruangan tersebut. Sesuai keyakinan masing-masing, dipanjatkanlah doa untuk dan Riyanto.

Acara ini digagas dan dihelat oleh lintas agama dan ormas yang meliputi Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU, GP Ansor NU, INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), GPdi (gereja Pantekosta di Indonesia), GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), GBI Diaspora, GKI (Gereja Kristen Indonesia), Paroki Santa Maria, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Lesbumi (lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), Fatayat, Muslimat, LDII (Lembaga dakwah Islam Indonesia), PHDI (Persatuan Hindu Dharma Indonesia), Konghucu, PGLH, GusDURian, Santri Jogo Kali, dan Pabejo. (rom/dur)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Semua Agama Sama? Ini Kata Gus Dur':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO