Ali Mahdi, Direktur Pemasaran PT Garam.
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Akibat cuaca ekstrem belakangan ini, produksi garam di Kabupaten mengalami penurunan. Hal ini diperparah dengan kondisi tahun kemarin di mana para petani garam gagal panen sehingga pada musim produksi tahun ini pemerintah mengimpor garam guna memenuhi kebutuhan.
Akibatnya, stok garam rakyat dalam beberapa bulan ini mengalami kelangkaan sehingga harga garam mencapai Rp 2,3 juta per ton.
BACA JUGA:
- Strategi Hemat Energi Tanpa Mengorbankan Produktivitas
- OJK Percepat Reformasi Pasar Modal Guna Perkuat Likuiditas dan Kepercayaan Investor
- Peran Doktor Ekonomi dalam Merumuskan Arah Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045
- Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru, Pertamina Patra Niaga Prediksi Konsumsi LPG dan BBM Meningkat
Menurut Hasan (50) salah satu petani garam di Pamekasan, harga garam saat ini naik hampir empat kali lipat dari harga normalnya. "Hal ini akibat stok produksi pada musim kemarin sangat sedikit," jelasnya, Jum'at (28/04)
"Produksi garam di petani sangat minim akibat cuaca yang tidak menentu," ungkap Hasan.
Ali Mahdi, Direktur Pemasaran PT Garam membenarkan minimnya stok garam yang disebabkan cuaca ekstrem. Menurutnya, hal ini membuat pemerintah menugaskan PT Garam Persero melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.
"Sampai dengan saat ini, sesuai kuota 226 ribu ton yang diberikan pemerintah baru terealisasi 75 ribu ton yang didatangkan dari negara Australia sebanyak 55 ribu ton, sedang sisanya dari India," ungkap Ali Mahdi saat dihubungi melalui telepon seluler
Meskipun demikian, kondisi ini masih belum bisa mengatasi kebutuhan garam secara nasional secara keseluruhan.
"75 ribu ton itu masih jauh dari harapan, karena baru 35 persen yang terealisir, sedangkan sisa dua per tiganya akan minta izin pemerintah untuk tahapan berikutnya," jelasnya.
Ali Mahdi menegaskan bahwa impor garam oleh pemerintah dikhususkan untuk garam konsumsi. Sementara untuk industri dilakukan oleh pabrik yang memang membutuhkan.
Sedangkan untuk produksi tahun 2017, lahan PT Garam sudah melakukan beberapa persiapan, mulai dari penataan saluran air produksi dan lainnya. "Dari segi persiapan, PT Garam tinggal menunggu datangnya kemarau saja, sesuai prakiraan BMKG," ujar Ali Mahdi.
Untuk tahun 2017, Ali Mahdi memperkirakan kebutuhan garam akan lebih meningkat dengan pasokan yang berkurang, sehingga terjadi akumulasi kebutuhan.
"Dengan estimasi normal kebutuhan garam nasional berkisar 3 juta ton, namun jika mundur satu bulan saja dampaknya akan sangat signifikan pengaruhnya pada hasil produksi, mudah-mudahan sesuai dengan harapan dan defisit tidak terlalu jauh," pungkasnya. (err/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




