Dalam satu ‘kanvas’ kain untuk membatik, Sutrisno biasanya memasukkan unsur ikon Surabaya. Selain itu dipadu dengan pola bunga mawar. Di samping kiri dan kanan kain di bagian lebarnya, dibikin pola segitiga sama kaki, di mana di dalamnya dilukis simbol sura dan baya.
“Saya ingin idealis buat batik Khas Surabaya saja. Selama ini belum ada,” tukas seniman yang sudah mempunyai dua putra ini. “Bahkan, satu teman saya bisa menjual satu kain batik dengan motif khas seharga Rp 15 juta, satu batik kelas premium,” tambah dia.
Maka, Sutrisno konsisten mengembangkan desain-desain khasnya, untuk mencapai kelas premium itu. “Di pelatihan hanya dapat dasar-dasar membatik saja, meliputi menyanting, mewarnai, fixasi, blok dengan warna, dan memberi warna. Kalau kita nggak kreatif, batik kita hasil dan polanya ya gitu-gitu saja. Memang awalnya saya hanya eksperimen saja, ternyata pasar berminat dengan karya saya,” papar dia.
Meski dengan desain kreatif dan unik, batik karya Sutrisno ini dibandrol termurah Rp 200 ribu ukuran selendang, dan kisaran Rp 2 juta untuk ukuran jarit. Ini sudah dijamin ada ikon Surabaya di dalamnya, misalnya seperti monumen kapal selam, logo sura dan baya, bambu runcing. Rata-rata, penghasilan dia dari usaha batik ini sekitaran Rp 2 juta.










