MADIUN, BANGSAONLINE.com - Anjloknya harga gula di pasaran membuat petani tebu di Kabupaten Madiun harus berpikir ulang untuk menanami lahan garapannya dengan tanaman tebu.
Seperti nasib yang dialami petani tebu mandiri asal Desa Dolopo, Sayekti yang memasukkan tebunya ke Pabrik Gula Dolopo yang tidak sebanding antara biaya operasional dengan keuntungan yang didapat.
BACA JUGA:
- Semarakkan Acara Babe, Disdagkopum Madiun Gelar Sembako Murah dan Bazar UMKM di Desa Bodag
- Kontraktor Keluhkan Pembayaran Proyek PT INKA Madiun Belum Lunas, Tersisa Rp100 Juta
- 513 Rumah Warga Madiun Dapat Sambungan Listrik Gratis dari Program BPBL Seruni KMP Bidang IV
- Autodebit JKN Jadi Solusi Praktis Jaga Kepesertaan Tetap Aktif
“Kita memasukan sendiri tebu ke PG Pagotan sebab kita diberi pinjaman untuk penggarapan, tapi harga tebu bagi kami sangat minim sekali. Sebab dari penggarapan sampai siap kirim ke pabrik tidak sesuai dengan biaya operasionalnya, mungkin kita akan ganti tanaman jika masih seperti ini,” urai Sayekti.
“Untuk gilingan 8 dan 9 belum bisa cair sedangkan yang 5, 6, 7 sudah bisa cair sedangkan kita masih memiliki gula di pabrik yang belum terjual hingga saat ini membuat saya merasa rugi," tambahnya.
Keluhan senada juga disampaikan Suryadi, petani tebu asal Desa Krandegan, Kecamatan Kebonsari. Akibat anjloknya harga gula kedua petani juga ada keengganan menanam tebu.
Suryadi menguraikan, dirinya mengalami kerugian yang lumayan besar. Selain hasil panen yang belum terbayar hingga selesai giling sejak bulan Juni lalu. Padahal sejak mulai proses giling dirinya mengambil pinjaman di bank yang dipakai untuk biaya tebang, biaya angkut dan lain-lainnya secara otomatis dirinya harus menanggung bunga di bank Rp 15 juta per bulannya.
Dirinya juga mengatakan bahwa hasil gula miliknya yang bernilai kurang lebih Rp 2 miliar belum terealisasi sampai sekarang.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




