
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Nur Hasan tidak bisa menikmati hari liburnya. Bersama sang istri, warga desa Sudimoro, Tulangan itu harus membersihkan rumahnya. Pasalnya, dua hari yang lalu, angin kencang menyapu atap rumahnya. Asbes pun hancur.
Di ruang tengah, masih tampak pecahan asbes. TV serta lemari pun masih berada di luar ruangan. "Ini harus dibersihkan dulu setelah itu baru ditata lagi," jelasnya saat ditemui, Minggu (13/1).
Bencana puting beliung itu meninggalkan bekas trauma. Pasalnya saat kejadian, dia tengah berada di ruang tengah bersama anaknya yang masih bayi. Saat hujan deras disertai angin kencang, pria 40 tahun itu sempat keluar rumah. "Ada bunyi keras di luar. Pas keluar angin tampak memutar," jelasnya.
Bergegas Hasan masuk ke dalam rumah. Dia langsung menggendong anaknya ke halaman belakang. "Seketika ada bunyi brak. Asbes hancur. Angin kencang langsung hilang," paparnya.
Atap rumah yang tersapu angin itu sudah diganti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo. Untuk sementara ditutup dengan terpal. Dia mengatakan, hari ini pembenahan kembali dilanjutkan. "Janjinya ditutup asbes hari ini," ucapnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Sidoarjo Dwidjo Prawito menjelaskan, hari ini merupakan batas akhir pembenahan rumah warga. Mayoritas bangunan yang terdampak sudah diperbaiki. "Pembenahan dibantu TNI dan warga," jelasnya.
Menurut Dwidjo perbaikan rumah warga tidak perlu menunggu Bantuan sosial Tidak Terduga (BTT). Lantaran kerusakan yang dialami masuk kategori ringan. Pihaknya memberikan bantuan bahan material. Berupa asbes dan terpal. "Pembenahan lebih cepat tinggal memasang asbes," ujarnya.
Potensi bencana di Kota delta masih tinggi. Tahun lalu tiga kali puting beliung menerjang Sidoarjo. Yakni tanggal 24 November di Waru Dusun Ambeng-ambeng dan Desa Ngingas. Total 38 rumah terdampak. Selang satu bulan angin kembali mengamuk di desa Semambung, Desa Pabean, dan Desa Sedati Gede. Total 21 rumah rusak. Di akhir tahun, tepatnya tanggal 18 November, angin kencang menerjang delapan desa di Tulangan. Sebanyak 458 rumah rusak.
Dwidjo menjelaskan, saat ini Sidoarjo masih berstatus siaga bencana. Puncaknya pada bulan April. "Kami minta warga tetap waspada," pungkasnya. (cat/rev)