Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Hal ini didasarkan pada sebuah hadis laporan sahabat Hakim bin Hizam ra yang datang kepada rasul dan bertanya tentang itu:
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».
“wahai Rasulullah aku didatangi seorang laki-laki yang ingin membeli barang yang tidak kumiliki, apakah aku membelikannya dari pasar. Maka Rasulullah bersabda “ Janganlah Engkau menjual barang yang tidak Engkau miliki”. (Hr. Abu Dawud:3505). Konteks hadis ini adalah dilarang menjual barang yang bukan miliknya, artinya tidak boleh mengambil keuntungan dari barang yang belum dimiliki secara sempurna.
Kecuali, bos Anda mengatakan, “Beli-lah barang itu (berapapun harganya) nanti aku beli dengan harga 20.000!”. Nah, bentuk transaksi seperti ini boleh Anda mengambil keuntungan. Sebab bos tau kalau dia sedang beli kepada Anda, bukan kepada orang lain.
Atau dengan mengatakan kepada beberapa orang, “Siapa saja yang punya barang ini dan itu akan saya beli @ 20.000”. Nah, akad ini juga boleh mengambil keuntungan 2.000 dari pembelian Anda 18.000 sebab ini disebut sebagai akad jua’lah.
Selama Anda adalah pegawai bos dan Anda hanya melaksanakan tugas Bos, baik itu hanya sekadar diberikan kuasa atau disewa jasa tenaga Anda untuk bekerja, maka haram hukumnya mengambil keuntungan sendiri tanpa sepengetahuan bos Anda. Semoga ini memberikan pemahaman yang jelas. Amin. Wallahu A’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




