Masyarakat rela mengantre demi mendapatkan Bubur Suro sebagai takjil sekaligus berharap berkah.
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Bagi masyarakat sekitar kompleks makam Sunan Bonang Tuban, saat Ramadhan pasti tak akan meninggalkan budaya rebutan Bubur Suro.
Seperti Ramadhan kali ini, masyarakat juga "ngalap berkah" terhadap bubur peninggalan dan warisan salah satu wali songo tersebut. Masyarakat rela mengantre demi mendapatkan Bubur Suro sebagai takjil.
BACA JUGA:
- Antisipasi Keracunan saat Ramadhan, Dinkes P2KB Tuban Awasi 20 Pedagang Takjil
- Program CSR, BRI Tuban Salurkan 1.000 Paket Sembako untuk Warga Kurang Mampu di Singgahan dan Senori
- Bagikan 300 Paket Takjil, Kapolres Tuban Manfaatkan Ramadhan untuk Lebih Dekat dengan Masyarakat
- Ratusan Catin Nikah di Malam Songo, Kemenag Tuban Siapkan Puluhan Penghulu

Salah satu yang mengantre Bubur Suro adalah Ikhwa, pengurus Yayasan Mabarrot Sunan Bonang Tuban. Saat ditemui BANGSAONLINE.com, Rabu (8/5), ia mengatakan bahwa bubur tersebut memang hanya ada di bulan suci Ramadhan.
Bubur dengan rasa pedas dan gurih tersebut dimasak di dua wajan yang terbuat dari kuningan. Proses memasak mulai pukul 13.00 WIB hingga 3 jam. Kemudian bubur didiamkan terlebih dahulu sebelum dibagikan.
"Jadi pembagiannya sekitar pukul 16.00 WIB," terangnya.
Menurutnya, rasa Bubur Suro tidak pernah berubah sejak zaman Sunan Bonang dahulu. Karena resep yang digunakan dalam pembuatan bubur ini adalah resep turun-temurun. Selain resep turun temurun, takaran bahan dasar yang digunakan untuk membuat juga tidak berubah. Seperti, bumbu gulai, beras 25 kilogram, 6 kilogram daging sapi, 10 kilogram balungan, dan 10 kelapa untuk dua wajan.
"Bubur suro ini merupakan peninggalan Sunan Bonang, dan menjadi tradisi saat Ramadhan. Warga banyak berebut karena ngalap berkah pada bubur itu," pungkasnya. (gun/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





