Sabtu, 17 April 2021 20:58

​Paus Pertimbangkan Pastor Nikah: Antara Modifikasi Selibat dan Kekerasan Seksual

Minggu, 03 November 2019 10:59 WIB
Editor: Tim
​Paus Pertimbangkan Pastor Nikah: Antara Modifikasi Selibat dan Kekerasan Seksual
Paus Fransiskus. foto: AFP/GETTY IMAGES/BBC.com

VATIKAN CITY, BANGSAONLINE.com - Paus Fransiskus, pimpinan gereja Katolik tertinggi di dunia menyerukan agar gereja berubah untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya pastor yang menikah untuk ditugaskan di kawasan Amazon Brasil. Seruan itu disampaikan Paus dalam misa pembukaan Sidang Para Uskup di Vatikan hari Minggu (6/10/2019) lalu.

Seruan Paus itu mengejutkan banyak pihak. Maklum, praktik selibat (tidak menikah) di kalangan pastor sudah menjadi doktrin dan keyakinan berabad-abad para penganut Katolik. Namun pada sisi lain, selibat juga diduga menimbulkan kekerasan seksual di berbagai belahan bumi. Banyak pastor yang justru berzina, main perempuan, baik dengan pekerja seks, biarawati, bahkan menikah diam-diam hingga memiliki anak.

Setidaknya ini terbaca dari laporan Komisi Respons Institusi terhadap Pelecehan Seksual Anak Australia. Komisi itu menuliskan bahwa anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di berbagai instansi di Australia, termasuk organisasi keagamaan. Dari para korban kekerasan seksual di instansi keagamaan yang diwawancarai komisi tersebut, 61,4 persen di antaranya mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi di organisasi Katolik.

Seperti dilaporkan CNN Indonesia, salah satu temuan terbesar tersebut dilansir pada Februari 2017 lalu, yaitu fakta bahwa 7 persen persen pastor Gereja Katolik di Australia diduga melakukan pelecehan seksual di dalam institusi keagamaan.

BACA JUGA : 

Dikritik Soal Doa Lintas Agama, Menag Yaqut Akhirnya Bilang Begini di Tulungagung

Kunjungi Gereja Santa Maria Sidoarjo, Wakapolda Jatim: Laksanakan Paskah dengan Damai

Sikapi Teror Bom Makassar, Kapolda Jatim Instruksikan Perketat Penjagaan, Terutama Surabaya-Malang

​Layani Seks Segi Tiga, Pelajar di Sidoarjo Diberi Rp 300 Ribu Sekali Kencan

Yang menarik, Komisi itu mengusulkan agar pihak gereja mau memodifikasi ajaran Katolik. "Ini harus mencakup pertimbangan apakah model kehidupan keagamaan dapat dimodifikasi untuk memfasilitasi bentuk lain dari asosiasi, jangka yang lebih pendek untuk komitmen selibat, dan/atau kehidupan selibat secara sukarela," bunyi salah salah satu rekomendasi tersebut.

Faktanya, banyak sekali korban kejahatan seksual para pastor itu justru anak-anak di bawah umur. Seperti dilansir AFP, Selasa (18/9/2019), salah satu korban kekerasan seksual pastor di Amerika Serikat bernama Joe Iacono. Ia menjadi korban skandal seks pastor yang ada di lingkungan tempat tinggalnya saat berusia 11 tahun.

Di India, seorang biarawati terang-terangan melaporkan seorang uskup setempat kepada polisi, yang disebutnya telah memperkosa dirinya sebanyak 13 kali selama dua tahun. Sang uskup telah ditangkap pada September 2018 setelah dinonaktifkan oleh Paus Fransiskus.

Kasus lainnya terjadi di Chile. Sejumlah biarawati menyampaikan langsung kepada publik melalui televisi nasional tentang kisah-kisah mereka dilecehkan secara seksual oleh para pastor. Ironisnya, pihak gereja sama sekali tak tergerak hatinya untuk menghentikan praktik asusila itu.

Belakangan para biarawati di berbagai negara mulai berani mengungkap kasus-kasus kekerasan seksual yang mereka alami -- khususnya karena gerakan antikekerasan seksual #MeToo. Kebanyakan kekerasan seksual dilakukan para pastor dan uskup di satu lingkungan gereja dengan mereka.

Seperti dilansir detik.com (7/2/2019), penyelidikan The Associated Press menunjukkan kasus kekerasan seksual pastor muncul di Eropa, Afrika, Amerika Selatan, dan Asia. Kasus serupa telah menjadi masalah global dan menyebar luas, yang menurut The Associated Press, turut dipicu oleh tradisi universal status kelas dua para biarawati di lingkungan Gereja Katolik dan kepatuhan mereka pada para pria yang menjadi atasan mereka.

Isu kekerasan seksual terhadap biarawati mencuat saat dunia dikejutkan oleh banyaknya skandal kejahatan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh para pastor dan uskup

Sayangnya, para korban enggan melapor karena takut tidak dipercaya. Sedangkan para pemimpin Gereja Katolik enggan mengakui kejahatan seksual yang dilakukan para pastor dan uskup mengabaikan sumpah selibat, karena tahu rahasia mereka akan aman.

Hasil kajian yang dilakukan mendiang biarawati Maura O'Donohue tahun 1994, salah satunya mengungkapkan ada sekitar 29 biarawati di satu lingkungan gereja yang hamil. Kajian itu dilakukan selama enam tahun di 23 negara di Afrika. Laporan O'Donohue menyebut para biarawati dianggap sebagai mitra seksual yang 'aman' bagi para pastor yang khawatir terinfeksi HIV jika mereka melakukan hubungan intim dengan para pekerja seks atau wanita lain di luar gereja.

Empat tahun kemudian, laporan lain yang disusun biarawati Marie McDonald menyebut tindak pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap para biarawati di Afrika oleh para pastor 'cukup umum' terjadi. Bahkan terkadang, sebut laporan McDonald, para biarawati sampai hamil dan dipaksa aborsi oleh para pastor.

BBC edisi Indonesia (18 Agustus 2018) melaporkan bahwa Mahkamah Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, merilis laporan panel juri berisi rincian dugaan pelecehan seksual di Gereja Katolik yang menuduh lebih dari 300 pastor.

Laporan investigasi panel juri selama 18 bulan itu menemukan lebih dari 1.000 anak telah dilecehkan oleh pastor-pastor dari enam paroki di negara bagian itu selama 70 tahun terakhir.

"Kami meyakini bahwa angka sebenarnya—mencakup anak-anak yang catatannya hilang atau takut tampil ke muka—berjumlah ribuan," sebut laporan itu.

Rangkaian peristiwa itu, menurut laporan tersebut, ditutup-tutupi oleh pihak gereja secara sistematis sehingga tidak muncul ke permukaan.

"Mereka semua (korban-korban) dikesampingkan oleh para pemimpin gereja yang memilih melindungi pelaku pelecehan dan institusi mereka."

Jaksa Agung Negara Bagian Pennsylvania, Josh Shapiro, yang menangani kasus itu sempat geram. Ia minta agar sensor yang melindungi para pastor yang secara jahat melakukan kekerasan seksual itu dicabut sehingga nama-nama pastor yang diduga terlibat dapat diungkap semua.

"Pejabat-pejabat gereja secara rutin dan sengaja menggambarkan pelecehan sebagai permainan kuda-kudaan, bergulat, atau tindakan tak patut. Padahal istilahnya bukan itu. Ini adalah pelecehan seksual terhadap anak-anak, termasuk pemerkosaan," kata Shapiro.

Bagaimana respon Vatikan? Paus Fransiskus membuat surat untuk seluruh umat Katolik dengan topik pelecehan seks. Seperti ditulis BBC (21/8/2018), Vatikan menyebut inilah surat Paus pertama untuk topik pelecehan seksual. Memang pihak gereja selama ini secara sistematis dan rapi melindungi dan menutupi kasus-kasus asusila yang dilakukan para pastor terhadap wanita-wanita tak berdosa, termasuk anak-anak.

Dalam surat berisi 2.000 kata yang dikeluarkan Senin (20/08/2018), Paus menyebut skandal di Amerika Serikat dan mengakui bahwa Gereja Katolik gagal dalam menangani secara lebih cepat.

Ia menggambarkan "keperihan yang dirasakan para korban yang lama diabaikan, diam atau dibuat diam." Tampaknya Paus mengakui bahwa pihak gereja selama berpuluh tahun secara sistematis selalu menutupi kejahatan seksual yang dilakukan para pastornya.

"Dengan rasa malu dan penyesalan, kami mengakui kami tidak melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Kami tidak bertindak pada saatnya dan mengakui besarnya skala kerusakan yang telah diakibatkan kepada banyak orang," tulisanya.

"Kami tidak menunjukkan perhatian pada anak-anak. Kami mengabaikan mereka."

Paus mengutip ayat dalam Kitab Injil bahwa, "Bila ada yang menderita, semua akan menderita" dan ia menyerukan Gereja untuk menghadapi kenyataan atas apa yang terjadi."

"Penting bagi kita sebagai Gereja, untuk dapat mengakui dan mengecam, dengan kepedihan dan rasa malu, kekejaman yang dilakukan oleh pemuka agama, dan mereka semua yang dipercaya untuk menjalankan misi mengasihi mereka yang sangat rentan. Mari kita meminta maaf atas dosa kita dan dosa orang lain." (tim)

​Mengenang Masa Lalu, Ngabuburit Sambil Bermain Meriam Bambu
Jumat, 16 April 2021 22:03 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa, atau ngabuburit.Salah satunya seperti yang dilakukan bocah di Kota Pasuruan, Jawa Timur. mereka bermain meriam bambu di tanah lapang.Sepert...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 17 April 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Setelah banyak mendapat dukungan dari para tokoh, dokter, dan bahkan jenderal, tampaknya uji fase II Vaksin Nusantara akan lanjut. Tentu di luar BPOM.Apa itu Ilegal? Nah, silakan ikuti tulisan Dahlan Iskan di Disway d...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 17 April 2021 11:15 WIB
Memasuki Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)...