Wali Kota Risma saat menjadi pembicara di luar negeri. foto: ist
Dalam lawatannya ke luar negeri, Febri memastikan bahwa Wali Kota Risma juga mengedepankan efisiensi waktu dan biaya. Contohnya kunjungan ke Austria dan Filipina pada 1-4 September dan 5-7 September. Wali Kota Risma memilih penerbangan langsung tanpa harus transit ke Indonesia. Sehingga lebih hemat biaya dan menghemat waktu. Begitu pula saat kunjungan ke Amerika Serikat pada 24-26 September dan 27-30 ke Korea Selatan dijadikan dalam satu trip.
“Tentu kegiatan ke beberapa negara ini sangat melelahkan. Tapi dipilih Bu Wali Kota karena lebih efektif dan efisien. Dibanding dari negara A lalu pulang dulu menuju negara B. Lebih baik dari negara A langsung ke negara B. Jadi lebih efektif dan efisien,” tuturnya.
Menurutnya, ada beberapa agenda ke luar negeri yang batal dihadiri Wali Kota Risma. Seperti pada 8-10 Februari 2019 di Amerika Serikat, kemudian pada 21-26 Agustus di San Fransisco Amerika Serikat batal dihadiri karena Wali Kota Risma saat itu tengah sakit.
Dalam waktu dekat, Febri mengungkapkan, Wali Kota Risma juga mendapat undangan dari Partai Pembangunan dan Keadilan (AK Party Women’s Wing), Republik Turki, untuk berpartisipasi dalam forum internasional dengan tema ‘International Forum of Women in Local Governance’. Forum ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Hak Perempuan di Turki dan akan dihadiri oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Wali Kota Risma akan menghadiri forum ini dan terlibat secara aktif sebagai keynote speaker untuk menyampaikan paparan terkait keberhasilan pembangunan Kota Surabaya dalam kepemimpinannya. Kunjungan ini rencananya akan dilakukan pada 11-13 Desember 2019.
Selama Wali Kota Risma melakukan lawatan ke luar negeri, manfaatnya bisa dirasakan bagi Kota Surabaya. Menurut Febri, selama melaksanakan kunjungan, Wali Kota Risma selalu mempromosikan Kota Pahlawan. Sehingga selama hampir 10 tahun sudah tak terhitung beberapa kali forum internasional digelar di Surabaya.
“Yang paling besar adalah acara UN Habitat yang pesertanya mencapai 4 ribu orang lebih. Banyaknya orang dari luar negeri yang datang ke Surabaya ini tentu sangat bermanfaat untuk Surabaya. Hotel jadi ramai, restoran ramai, oleh-oleh juga ramai. Itu nanti akan berdampak pada PAD (Pendapatan Asli Daerah),” pungkasnya. (ian/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




