Asosiasi PKL Kota Probolinggo saat curhat di kantor DKUPP.
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Sejumlah perwakilan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tergabung dalam Asosiasi PKL Kota Probolinggo ngeluruk kantor Dinas Koperasi Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) setempat. Mereka mengeluhkan soal nasibnya yang tidak menentu sejak pandemi Covid-19.
“Sejak penyebaran Covid-19 ini nasib para PKL semakin tidak menentu,” ujar Ketua Asosiasi PKL Kota Probolinggo, Marsam, Selasa (21/4).
BACA JUGA:
- Namanya Dicatut Jadi Modus Penipuan, Wali Kota Probolinggo Minta Masyarakat Hati-Hati
- PT Anugerah Jaya Megah Beri Bantuan Meja,Kursi dan Beasiswa ke Yayasan Nurul Islam Kota Probolinggo
- Reses, PKS Kota Probolinggo Singgung Perda Retribusi Hiburan
- Bangun Generasi Qurani, MUI Kota Probolinggo Gelar Tadribul Qurra
Bahkan sejak Pemkot memberlakukan jam malam hingga pukul 19.00 WIB, nasib PKL semakin menjerit. “Kasihan nasib mereka,” tandasnya.
Marsam menjelaskan, dagangan milik PKL sekarang sepi dari pembeli. Apalagi sejak adanya pemberlakuan jam malam. “Sekarang jangan tanya soal keuntungan. Balik modal saja sudah beruntung,” katanya.
Melihat kondisi nasib para PKL yang memprihatinkan, Marsam berharap agar pemerintah turut memikirkan nasib rakyat kecil, khususnya para PKL.
Sementara itu, Kepala DKUPP Kota Probolinggo, Gatot Wahyudi mengatakan, untuk membantu nasib para PKL, pihaknya sudah menyiapkan bantuan untuk digelontorkan. “Ada sekitar 6.000 orang yang sudah terdata,” tukasnya.
Hanya saja, untuk menggelontorkan bantuan tersebut masih menunggu proses pergeseran anggaran yang membutuhkan waktu. (prb1/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




