Oleh: Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi
Oleh Aguk Irawan MN
Di sebuah lereng di Pacet, Mojokerto, laju waktu seakan melambat, namun barakah justru bergegas. Di sana, KH. Asep Saifuddin Chalim membangun sebuah ekosistem yang bukan sekadar tembok Madrasah, melainkan sebuah manifesto tentang bagaimana Islam seharusnya hadir: sebagai tangan yang memberi, bukan tangan yang menengadah.
Menatap sosok Kiai Asep adalah membaca kembali narasi tentang kriteria ideal seorang pemimpin spiritual—seorang Rais Aam bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia bukan sekadar pemegang stempel organisasi; ia adalah penjaga api harakah yang bersumber dari kedalaman sanubari.
Tentu saja, kriteria umum, sebagaimana sering disinggung, --seorang Rais Aam haruslah seorang yang aliman (berilmu luas) dan faqihan (memiliki pemahaman mendalam). Kiai Asep adalah personifikasi dari literasi pesantren yang kokoh. Namun, bukanlah ulama tipe menara gading. Kiai Asep memahami bahwa Fiqh bukanlah sekadar tumpukan teks kuning yang statis.
Baginya, menjadi faqih berarti mampu melakukan kontekstualisasi fiqhul islam di tengah deru modernitas. Beliau tidak hanya membaca kitab turos, seperti Ikhya Ulumiddin, tapi juga membaca "muasir" masa depan santri melalui pendidikan formal yang unggul. Inilah "ilmu yang menghidupkan," sebuah sintesis antara kearifan klasik dan tuntutan zaman.
Kemudian, dalam politik organisasi yang sering kali bising, sifat zahidan (zuhud) menjadi barang langka. Kiai Asep menampilkan zuhud yang unik. Beliau kaya secara materi—seorang pengusaha sukses yang mandiri—namun kekayaan itu tidak pernah singgah di hatinya. Ia hanya mampir di tangannya untuk kemudian dialirkan kembali kepada umat.
Dalam konsepsi zuhud Syaikh Hasan Syadili, zuhud bukan berarti tidak memiliki dunia, tetapi dunia tidak memilikimu. Inilah pangkal dan ujung sikap muru’ah. Sebuah upaya menjaga kehormatan diri dengan tidak menjadi beban bagi orang lain. Kiai Asep adalah antitesis dari ketergantungan. Dengan kemandirian ekonomi Amanatul Ummah, beliau menjaga marwah ulama agar tetap tegak, tidak membungkuk di hadapan kekuasaan atau kepentingan sesaat.
Ada satu kualitas yang jarang dibicarakan namun melekat kuat pada Kiai Asep: futuwwah. Dalam tradisi tasawuf, futuwwah adalah jiwa ksatria, keberanian untuk mendahulukan orang lain (itshār). Jejak ini bukanlah kebetulan. Kiai Asep adalah putra dari KH. Abdul Chalim, salah satu pilar utama pendiri Nahdlatul Ulama (Komite Hijaz).
Secara nasab, darah pejuang mengalir dalam nadinya. Namun, beliau tidak pernah "menjual" nasab tersebut. Beliau memvalidasi kehormatan leluhurnya dengan kerja nyata, membangun institusi pendidikan dari nol hingga menjadi rujukan nasional.
Ia adalah perpaduan antara "biografi yang selesai" dan "pengabdian yang tak kunjung usai."
Jika PBNU adalah sebuah kapal besar yang mengarungi samudera zaman yang kian tak menentu, maka Rais Aam adalah kompas moralnya. Kita membutuhkan sosok yang tidak hanya fasih bicara tentang langit, tetapi juga tahu bagaimana menjejak bumi.
Kiai Asep menawarkan sebuah model kepemimpinan, bahwa kemandirian adalah otonomi sikap dan ini menunjukkan bahwa NU bisa tegak tanpa proposal yang mengemis. Selain kemandirian, adalah intelektualitas. Di tangan Kiai Asepi, visi pendidikan Kiai Asep, santri harus bersaing di panggung global tanpa kehilangan identitas kesantriannya.
Juga ketulusan yang mengingatkan kita bahwa puncak dari segala ilmu adalah pengabdian kepada kemanusiaan. Mungkin, di bawah asuhan sosok dengan kriteria aliman, faqihan, zahidan, muru’ah, dan futuwwah inilah, NU insyaallah akan menemukan kembali khitah misi pendiriannnya. Bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai oase bagi kegelisahan umat.
Dari sebuah kota yang padat dan riuh Surabaya ke pinggiran kawasan Pacet, fajar itu datang dengan harapan. Pada aura Kiai Asep, kita melihat pantulan fajar yang sama untuk masa depan Nahdlatul Ulama. Wallahu'alam bishawab.
*Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta.








