Oleh: Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi
Oleh Aguk Irawan MN
Di sebuah lereng di Pacet, Mojokerto, laju waktu seakan melambat, namun barakah justru bergegas. Di sana, KH. Asep Saifuddin Chalim membangun sebuah ekosistem yang bukan sekadar tembok Madrasah, melainkan sebuah manifesto tentang bagaimana Islam seharusnya hadir: sebagai tangan yang memberi, bukan tangan yang menengadah.
BACA JUGA:
- PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Calon Rais 'Aam PBNU
- Forum Rais Syuriyah PCNU se-Jatim Sampaikan 5 Rekomendasi ke PBNU
- Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
Menatap sosok Kiai Asep adalah membaca kembali narasi tentang kriteria ideal seorang pemimpin spiritual—seorang Rais Aam bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia bukan sekadar pemegang stempel organisasi; ia adalah penjaga api harakah yang bersumber dari kedalaman sanubari.
Tentu saja, kriteria umum, sebagaimana sering disinggung, --seorang Rais Aam haruslah seorang yang aliman (berilmu luas) dan faqihan (memiliki pemahaman mendalam). Kiai Asep adalah personifikasi dari literasi pesantren yang kokoh. Namun, bukanlah ulama tipe menara gading. Kiai Asep memahami bahwa Fiqh bukanlah sekadar tumpukan teks kuning yang statis.
Baginya, menjadi faqih berarti mampu melakukan kontekstualisasi fiqhul islam di tengah deru modernitas. Beliau tidak hanya membaca kitab turos, seperti Ikhya Ulumiddin, tapi juga membaca "muasir" masa depan santri melalui pendidikan formal yang unggul. Inilah "ilmu yang menghidupkan," sebuah sintesis antara kearifan klasik dan tuntutan zaman.
Kemudian, dalam politik organisasi yang sering kali bising, sifat zahidan (zuhud) menjadi barang langka. Kiai Asep menampilkan zuhud yang unik. Beliau kaya secara materi—seorang pengusaha sukses yang mandiri—namun kekayaan itu tidak pernah singgah di hatinya. Ia hanya mampir di tangannya untuk kemudian dialirkan kembali kepada umat.
Dalam konsepsi zuhud Syaikh Hasan Syadili, zuhud bukan berarti tidak memiliki dunia, tetapi dunia tidak memilikimu. Inilah pangkal dan ujung sikap muru’ah. Sebuah upaya menjaga kehormatan diri dengan tidak menjadi beban bagi orang lain. Kiai Asep adalah antitesis dari ketergantungan. Dengan kemandirian ekonomi Amanatul Ummah, beliau menjaga marwah ulama agar tetap tegak, tidak membungkuk di hadapan kekuasaan atau kepentingan sesaat.
Ada satu kualitas yang jarang dibicarakan namun melekat kuat pada Kiai Asep: futuwwah. Dalam tradisi tasawuf, futuwwah adalah jiwa ksatria, keberanian untuk mendahulukan orang lain (itshār). Jejak ini bukanlah kebetulan. Kiai Asep adalah putra dari KH. Abdul Chalim, salah satu pilar utama pendiri Nahdlatul Ulama (Komite Hijaz).
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




