Jumat, 30 Oktober 2020 20:46

Tafsir Al-Kahfi 29: Umar Ibn Al-Khattab Menghentikan Zakat Bagi Mu'allaf

Minggu, 06 September 2020 22:28 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 29: Umar Ibn Al-Khattab Menghentikan Zakat Bagi Mu
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

29. Waquli alhaqqu min rabbikum faman syaa-a falyu'min waman syaa-a falyakfur innaa a’tadnaa lilzhzhaalimiina naaran ahatha bihim suraadiquhaa wa-in yastaghiitsuu yughaatsuu bimaa-in kaalmuhli yasywii alwujuuha bi'sa alsysyaraabu wasaa-at murtafaqaan

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.


TAFSIR AKTUAL

Riwayat yang menyatakan bahwa Umar ibn al-Khattab tidak memberi jatah zakat kepada muallaf cukup bagus dijadikan pelajaran. Para muallaf menggerutu dan ada shahabat yang membela, bahkan protes terhadap kebijakan Umar ini. Pembelaan shahabat itu merujuk al-Tawbah:60.

Umar menjawab, bahwa distribusi zakat untuk muallaf sebagaimana tertera pada ayat tersebut tidaklah mutlak. Bagi Umar, ayat 60 al-Taubah itu cocok untuk Islam yang masih membutuhkan sponsor, pendukung, pemeluk, seperti pada masa awal. Kini islam sudah sangat kuat dan tidak perlu merayu apalagi memanjakan mereka. Yang mau beriman silakan, dan yang mau kafir silakan. "fa man sya' falyu'min wa man sya' falyakfur". Masing-masing ada konsekuensinya.

Dalil ayat dibalas dengan ayat. Umar mampu memposisikan ayat pada situasi yang pas dan lebih bermaslahah. Jika terus-terus memberi zakat kepada mu'allaf, maka terkesan Islam itu murahan dan butuh pemeluk. Maka Umar memilih Islam yang berwibawa dan elegan, bukan Islam yang murahan.

Ada riwayat berbeda, bahwa Baitul Mal, kas negara mencatat ada beberapa mu'allaf yang sudah diberi zakat tahun silam kembali lagi dan terus meminta zakat lagi. Rupanya dia memanfaatkan status muallafnya untuk mendapatkan subsidi. Umar melihat orang macam ini tidak ada upaya menjadi muslim yang baik. Maka jatah zakat diputus berdasar ayat kaji ini. Allah a'lam. 

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 28 Oktober 2020 18:30 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Selama ini, masyarakat jamak mengetahui khasiat minyak kayu putih dipakai sebagai penghilang masuk angin atau perut kembung. Jarang atau belum banyak yang tahu kalau minyak tersebut berasal dari sebuah tanaman kayu putih. ...
Senin, 12 Oktober 2020 19:15 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) minta para kepala daerah meniru Jawa Timur dan Sulawesi Selatan dalam menangani Covid-19. Dua provinsi tersebut – menurut Jokowi - mampu menekan angka kasus Covid-19."Saya mencata...
Kamis, 22 Oktober 2020 10:40 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*34. wakaana lahu tsamarun faqaala lishaahibihi wahuwa yuhaawiruhu anaa aktsaru minka maalan wa-a’azzu nafaraandan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-ca...
Rabu, 28 Oktober 2020 10:49 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...