Konflik PBNU Krusial, Kiai Imam Jazuli: Kiai Asep Harus Bertanggungjawab

Konflik PBNU Krusial, Kiai Imam Jazuli: Kiai Asep Harus Bertanggungjawab Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan KH Imam Jazuli, Lc, MA dalam acara Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Uma Cirebon di Aula Pondok Pesantren BIMA Cirebon, Ahad (25/1/206) malam. Foto: MMA/bangsaonline

CIREBON, BANGSAONLINE.com – Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon KH Imam Jazuli, Lc, MA, menilai konflik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekarang sudah masuk kategori krusial dan kronis sehingga sangat mengkhawatirkan bagi NU.

Karena itu, tegas Kiai Imam Jazuli, harus ada figur tokoh atau ulama yang bisa menyelamatkan NU. Alumnus Universitas Universitas Al Azhar Mesir itu menyebut Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, sosok ulama yang bisa menyelamatkan NU.

“Pak Kiai Asep harus bertanggungjawab,” tegas Kiai Imam Jazuli saat menyampaikan sambutan dalam acara Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Uma Cirebon di Aula Pondok Pesantren BIMA Cirebon, Ahad (25/1/206) malam.

Dalam acara penutupan Konfercab Pergunu Cirebon yang dihadiri Bupati Cirebon Imron Rosyadi itu Kiai Asep Saifuddin Chalim hadir. Pantauan BANGSAONLINE, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu itu tiba di lokasi acara sekitar pukul 19.30 WIB bersama rombongan dari Surabaya.

Tampak juga Ketua PW Pergunu Jawa Barat Dr Saefulloh dan Ketua PC Pergunu Cirebon Dr Dasuki yang baru terpilih untuk kedua kalinya. Juga hadir Rais Syuriah PCNU Cirebon KH Wawan Arwani.

Pergunu di kawasan Jawa Barat memang sering mengadakan acara di Pesantren BIMA. Setidaknya, acara Pergunu ini yang ketiga kalinya dihadiri Kiai Asep.

Menurut Kiai Imam Jazuli, Kiai Asep harus bertanggungjawab karena dia putra pendiri NU KH Abdul Chalim. Kiai Asep, tegas Kiai Imam Jazuli, juga memiliki sejarah panjang dalam memimpin NU. Termasuk pernah menjadi ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya dan juga menghidupkan kembali Pergunu yang selama Orde Baru “mati suri”.

Menurut dia, Kiai Asep menghidupkan Pergunu itu dengan dana operasional uang pribadi.

“Jadi NU itu sudah menjadi bagian dari beliau. Karena itu ketika NU menghadapi masalah krusial, beliau mempunyai tanggungjawab besar untuk mengembalikan NU,” tegas alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu sembari mengatakan bahwa secara finansial Kiai Asep sangat kuat.

Kiai Imam Jazuli juga mengatakan bahwa Kiai Asep ulama dan pemimpin visioner.

“Sehingga sudah punya agenda mau dibawa kemana NU,” tegasnya.

Ia mencontohkan dalam bidang pendidikan. Menurut dia, Kiai Asep sudah memiliki blue print. Yaitu Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang sangat produktif melahirkan santri berprestasi baik secara nasional maupun internasional. Ribuan santri Kiai Asep diterima di berbagai perguruan tinggi negeri dalam negeri dan luar negeri seperti di Amerika Serikat dan Eropa, disamping di Timur Tengah.

Sayangnya, tegas Kiai Imam Jazuli, belum banyak kiai yang bisa melakukan transformasi pendidikan seperti Kiai Asep. Padahal bangsa ini, tegas Kiai Imam Jazuli, butuh generasi muda yang punya keahlian di berbagai bidang, tidak hanya bidang agama.

Karena itu, tegas Kiai Imam Jazuli, jika Kiai Asep memimpin NU bisa melakukan transformasi dan supervisi serta solusi bagi pondok pesantren. Menurut dia, Kiai Asep adalah figure yang dibutuhkan NU dan bangsa saat ini. Visioner dan punya pandangan jauh ke depan.

“Masalah yang dihadapi NU sekarang adalah SDM,” tegas Kiai Imam Jazuli.

Menurut dia, NU sekarang belum punya tenaga professional yang bisa diandalkan. Sehingga NU belum bisa menjadi penentu kebijakan.

“Kita punya menteri, tapi dirjennya apakah NU,” kata Kiai Imam Jazuli.

Kiai Imam Jazuli terang-terangan mengakui bahwa ia memiliki pesantren prospektif seperti sekarang karena banyak belajar pada Kiai Asep dan bahkan “memfoto kopi” sistem pesantren Amanatul Ummah yang dipimpin Kiai Asep.

“Tapi masih belum bisa seperti pesantren Amanatul Ummah,” tegas Kiai Imam Jazuli yang tahun kemarin sebanyak 300 santrinya diterima di bebagai perguruan tinggi luar negeri dan luar negeri. Seperti diberitakan BANGSAONLINE, santri Amanatul Ummah yang diterima di perguruan tinggi negeri dalam negeri dan luar negeri sebanyak 1.269 santri pada tahun 2025.

Meski demikian santri BIMA yang diterima di PTN dan luar negeri terus meningkat.

“Yang diterima diluar negeri semuanya beasiswa,” tutur Kiai Imam Jazuli kepada BANGSAONLINE seusai acara sembari mengatakan bahwa sebagian diterima di China, Rusia dan negara lainnya.

“Yang diterima di Rusia semua jurusan persenjataan,” ujar Kiai Imam Jazuli sembari mengatakan bahwa pesantren BIMA mendapat jatah beasiswa 25 santri di perguruan tinggi Rusia.

Sementara Kiai Asep dalam sambutannya mengawali dengan bercerita peran kiai pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Pesantren melakukan perlawanan terhadap Belanda, tapi dengan mudahnya ditumpas,” ujar Kiai Asep. “Karena melakukan perlawanan sendiri-sendiri,” tambah putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.

Maka perlu persatuan. Menurut dia, KH A Wahab Hasbullah dan KH Abdul Chalim (ayah Kiai Asep) semula menjadi anggota Syarikat Islam (SI) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Namun kemudian memisahkan diri.

“Karena Tjokroaminoto menganut khilafah,” ujar Kiai Asep.

Sebaliknya, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menganut Ahlussunnah Wal Jemaah atau Islam inklusif dan moderat. Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh menekankan persatuan dan kesatuan bangsa. Tanpa persatuan sulit melawan penjajah Belanda.

Karena itu Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim kemudian keluar dari SI yang menganut khilafah.

“Karena beda pemahaman keislaman. Karena tak mungkin dengan khilafah bisa menghadapi Belanda. Karena sulit membangun persatuan,” ujarnya.

Kiai Wahab kemudian mendirikan lembaga kader. Yaitu Nahdlatul Wathan. Lembaga inilah yang banyak mencetak generasi bangsa dari NU. Bahkan kader-kader Nahdlatul Wathan inilah yang kemudian banyak mengisi kepengurusan PBNU pertama.

“Ketika NU berdiri Belanda langsung merasa bangsa ini akan merdeka, karena kiai-kiai pesantren yang selama ini melakukan perlawanan sekarang bersatu,” ujar Kiai Asep.

Meski demikian kemerdekaan itu hampir lepas. Sehingga terjadi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang mayoritas pelakunya adalah para kiai dan santri.

“Sekitar 30 ribu mayat memenuhi sungai Kalimas di Jembatan Merah Surabaya,” kata Kiai Asep mengutip berita dari The new York Times.

Sekarang, kata Kiai Asep, orientasi perjuangan pesantren harus mengalami transformasi. Jika dulu untuk kemerdekaan bangsa, sekarangg untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu Indonesia maju, adil dan makmur.

Untuk mewujudkan cita-cita itu pesantren harus melahirkan empat pilar bangsa. Pertama, ulama besar yang bisa menerangi dunia, utamanya Indonesia. Kedua, pemimpin dunia dan bangsa yang bisa menciptakan kesejahteran dan keadilan. Ketiga, konglomerat besar yang berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa.

“Maaf, bukan konglomerat seperti sekarang,” tegas kiai miliarder tapi dermawan itu.

Keempat, generasi professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.

Menurut Kiai Asep, tantangan NU dan pesantren bagaimana bisa memajukan bangsa.

“Dulu pesantren sukses memperjuangkan kemerdekaan,” tegasnya.

Sekarang, tegas Kiai Asep, bagaimana kita memperjuangkan Indonesia maju, adil dan makmur.

“Sekarang sulit dibayangkan, seperti dulu kita sulit membayangkan Indonesia merdeka. Tapi nanti pada saatnya akan terwujud,” tegas pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.

Menurut dia, pesantren adalah lembaga pendidikan sangat strategis untuk mencetak kader bagnsa. Sebab pesantren memiliki waktu lebih lama ketimbang sekolah umum. Hanya saja, tegas Kiai Asep, pesantren harus melakukan transformasi seperti Amanatul Ummah.